“REINVENTION” PADA ERA DISRUPSI

“Reinvention” Pada Era Disrupsi

Buku terbaru Professor Dave Ulrich, terbit Agustus 2019.

ALL companies, especially those in the fastest competitive environment, need to keep their organizations nimble and responsive.” Dave Ulrich and Arthur Yeung

Bayangkan ketika seorang anak membawa pacarnya pulang bertemu orangtuanya. Apa yang dapat di lakukan oleh sang bokap untuk mengevaluasi latar belakang sang calon menantu? Pada era digital sekarang, cara yang paling mudah adalah mem-follow akun Instagram atau Facebook sang calon.

Cara lain sang ayah juga dapat “Googling” menelusuri jejak digital sang calon di dunia maya. Hari ini, “Google-nization” bersama dengan digitalisasi dan perubahan teknologi telah mengubah pola perilaku serta harapan pelanggan.

Bagi perusahaan yang ingin berubah, reinvention atau mengembangkan strategic capability seperti kemampuan menciptakan celah segmen pasar baru dan melakukan inovasi merupakan keniscayaan. Namun, tak kalah penting adalah kesiapan perusahaan membangun integrating capability yang dapat menunjang strategic capability dalam bersaing.

Integrating capability (IC) merupakan kapabilitas internal organisasi, seperti struktur, talenta dan budaya kerja yang di butuhkan untuk mengeksekusi strategic capability (SC) perusahaan. Dengan berinvestasi dalam pengembangan IC, efektivitas dan kesinambungan dari SC dapat terpelihara. Kasus Supercell, sebuah perusahaan start-up pencipta game Clash of Clans yang sangat populer di Indonesia merupakan contoh baik.

Supercell di dirikan di Filandia oleh CEO likka Paananen beserta lima temannya pada 2010. Saat ini, Supercell memiliki value 10 miliar dollar AS dan pendapatan tahunan lebih dari 2 mikiar dollar AS atau Rp 28 triliun. Keberhasilan dari perusahaan mobile gaming ini tidak lepas dari kejelian pendirinya mengantisipasi tren teknologi yang mengarah kepada mobile internet pada 2010.

Berpindahnya akses internet dari komputer dekstop dan laptop ke telepon genggam menginspirasi Supercell untuk mengembangkan game berbasis platform mobile. Ingin fokus dalam pengembangan game, Supercell menjalin kerja sama dengan Tencent untuk memasarkan game-nya di China dan menyewa infrastruktur teknologi dan Amazon Web Service (AWS).

Keberhasilan Supercell tidak hanya terjadi karena memiliki SC yang jeli dan fokus dalam melihat serta mengelola ekosistem di ceruk pasar mobile game. Yang tidak terlihat di publik adalah IC yang di bangun di dalam perusahaan dengan menciptakan lingkungan kerja yang berorientasi kreativitas dan inovasi. Supercell percaya bahwa tim terbaik akan menghasilkan game yang terbaik.

Struktur organisasi tim pengembang Supercell di bentuk tanpa hierarki dan sangat independen . setiap “cell’ pengembang game terdiri atas anggota yang terbatas dengan filosofi “the smaller the team the better”. Game Clash of Clans yang sangat mendunia, misalnya, diawali dengan tim S orang dan bertumbuh menjadi 8 orang untuk menambah fitur-fitur baru dalam game yang Sallgat interaktif ini. Setiap tim hanya diberi arahan terkait segmen pelanggan dan arahan besar lainnya.- Selebihnya, tim tersebut bekerja secara independen Clan mencari jalan sendiri  tanpa instruksi maupun intervensi dari manajemen.

Kualitas kerja sama di atas tidak lepas dari kemampuan Supercell mengelola talenta. Untuk mendapatkan seorang developer atau artis, mereka rnengevaluasi ribuan pelamar yang masuk. Ketatnya saringan dalam rekrutmen mencerminkan kepercayaan manajemen Supercell bahwa 1 anggota tim yang luar biasa lebih berharga dari 100 anggota tim yang biasa saja. Tim yang clirekrut kemudian dibieri kebebasan seluas-luasnya dalam bereksperimen. Kegagalan bukanlah hal yang tabu. Ketika suatu game dianggap gagal, perayaan kecil dengan membuka sebotol sampanye dilakukan dan pembelajaran dibahas dalam tim.

Perjalanan Supercell menggambarkan bahwa jenis kapabilitas strategis yang baru clibutuhkan dalam menghadapi era disrupsi ini. Kemarnpuan meinbangun SC dan IC tidak terbatas bagi perusahaan baru seperti Supercell. Alur proses dl atas telah diterapkan General Electric dan Amazon, perusahaan yang jauh lebih besar dengan umur,yang lebih panjang, untuk melakukan reinventing the organization agar dapat terus bertumbuh di tengah gernpuran ketidakpastian.