Belajar Bijak dalam Kehidupan Melalui Novel Pergi

Belajar Bijak dalam Kehidupan Melalui Novel Pergi

Posted By Republika Under Resensi

Novel Pergi merupakan sekuel novel Pulang. Seperti halnya pada novel Pulang, novel Pergi ini juga menceritakan tokoh utama bernama Bujang alias si Babi Hutan a.k.a Agam. Cerita bermula saat Bujang didampingi rekan-rekannya berusaha mengambil kembali prototype yang dicuri oleh kelompok lain, El Pacho, di perbatasan Meksiko – Amerika Serika. Prototype tersebut merupakan salah satu riset teknologi yang didanai oleh Keluarga Tong. Teknologi itu penting sekali untuk mendeteksi serangan cyber. El Pacho sendiri merupakan sindikat penyelundupan narkoba terbesar di Amerika Selatan. Tentu saja mereka membutuhkan untuk melindungi uang haram mereka.

Tak dinanya, Bujang justru bertemu sosok lelaki misterius berusia tiga puluh yang berakhir dengan duet keduanya untuk memperebutkan benda itu (prototype). Lelaki misterius itu bernyanyi! Ya, menyanyikan sebuah lagu yang diiringi petikan gitar khas Amerika Selatan dengan irama cepat, berdenting, meliuk, dan semangat.

Kali ini, Bujang yang hampir tak pernah terkalahkan harus takluk pada sosok misterius itu, yang ketika hendak meninggalkan Bujang, ia justru mengucapkan kata-kata yang membawa bujang ke masa lalu, “Adios Hermanito, Adik lelakiku” dan bahkan menyebut nama asli Bujang “Agam” yang hanya segelintir orang yang tahu.

Rasa penasaran akan siapa lelaki itu, membawa Bujang menjenguk masa lalunya. Ternyata lelaki misterius itu, Diego, adalah saudara tiri Bujang. Sementara itu, Bujang juga harus bersiap untuk menghadapi kelicikan Dragon, pemimpin shadow economy. Bujang mengambil tindakan bersekutu dengan Bratva di Moskow dan Keluarga Yamaguchi di Jepang.

Banyak nasihat bijak yang dapat dipetik oleh pembaca. “Kehidupanmu ada di persimpangan berikutnya, Agam. Dulu kamu bertanya tentang definisi pulang, dan kamu berhasil menemukan, bahwa siapa pun pasti akan pulang ke hakikat kehidupan. Kamu akhirnya pulang menjenguk pusara bapak dan mamakmu, berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan. Tapi lebih dari itu, ada pertanyaan penting berikutnya yang menunggu dijawab. Pergi. Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa? Apa ‘kendaraannya’? dan ke mana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu sekarang, Bujang. Menemukan jawaban tersebut.‘Kamu akan pergi ke mana?, Nak,” (halaman 86).

Pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu terasa dalam novel ini. Memang benarlah sebagian orang yang mengatakan bahwa seorang anak lelaki, selamanya akan menjadi anak ibu.

“…kamu pernah mengalami momen hidup yang sangat spesial. Midah!. Mamakmu di talang. Itulah momen spesial tersebut… wanita yang sangat sabar, memberikan contoh bagaimana hidup ini harus dijalani. Bagaimana dia harus melangkah pergi. Midah memutuskan menikah dengan Samad yang lumpuh, apa pun harganya. Dia menjadi istri yang baik, sekaligus menjadi Mamak yang baik bagimu. Sesulit apa pun hidupnya, dia tetap memeluk anaknya, Bujang, berbisik, besok akan selalu ada harapan yang lebih baik. Saat menangis, berlinang air matanya, sekali lagi dia memeluk anaknya, Bujang, berbisik, besok pasti ada janji masa depan yang lebih indah.

Itulah momen terbaik dalam hidupmu, yang akan terus kamu kenang, Bujang,” (halaman 394 – 395).

Pengarang novel ini, Tere Liye sangat piawai dalam mendeskripsikan latar/setting. Kekuatan latar yang dibangun tidak sekadar tempelan. Memerlukan riset tentu saja.

Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan buku Pergi ini. Hal yang sedikit mengganggu yaitu salah sebut nama tokoh dan kesalahan penulisan ejaan.

Membaca novel ini akan menemukan jawaban-jawaban yang boleh jadi menggema dalam diri kita. Kita diajak merenung, menelisik relung hati, untuk kemudian berjalan lebih bijak dengan membaca tanda-tanda dalam kehidupan. (Yeti Islamawati, Hari Puisi (Radar Cirebon Grup).