KETIKA HOAKS MENGANCAM PERSATUAN BANGSA

Sumber : Kompas | Sabtu, 28 Juli 2018 | 21

KETIKA HOAKS MENGANCAM PERSATUAN  BANGSA

Kehadiran media baru seperti  internet dengan berbagai macam aplikasi jejaring sosial membuka ruang bagi masyarakat untuk bebas berekspresi. Media baru menyediakan akses  interaktig bagi warga untuk memengaruhi pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan pemerintahan.

Sebagai sarana, media baru pada dasarnya bersifat netral. Baik buruknya tergantung siapa dan bagaimana pemanfaatannya. Berdasarkan fakta dan data, banyak pihak di Tanah Air yang memanfaatkan media sosial untuk kepentingan politik atau ekonomi pribadi atau golongan. Mereka menebar hoaks atau kabar bohongdan ujaran kebencian di dunia maya. Banjir hoaks semakin menjadi menjelang pemilu. Budi Gunawan dan Barito Mulyo Ratnomo,  yang bertugas di Badan Intelijen Negara (BIN), memaparkan hal itu dalam buku  Kebohongan di Dunia Maya  (Kepustakaan  Populer Gramedia, 2018).

Berdasarkan penelusuran BIN, sejumlah situs penyedia konten telah menyebarkan hoaks, memanipulasi informasi atau berita dari media arus utama. Mereka mencampur fakta dengan fiksi dan menggunakan bahasa provokatif dan tendensius, terutama menjelang pilkada, pileg, atau pilpres. Selama 2016-2017 terungkap beberapa situs penyedia konten hoaks. Strategi  politik identitas  yang memobilisasi  emosi masyarakat berbasis isu SARA terhadap lawan politik efektif membangkitkan kemarahan dan kebencian warga terhadap kelompok lain. Rasio digantikan emosi (post-truth). Dampak semua itu, merapuhnya rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa. (AFN/LITBANG KOMPAS)