Politik Budaya Tari Keraton

Sumber : Kompas | Sabtu, 6 Oktober 2018

Politik Budaya Tari Keraton

Bagi orang kebanyakan, seni tari merupakan bagian dari  seni pertunjukan yang lebih menonjolkan aspek hiburan. Pengenalan awam  pada dunia tari umumnya pada dua kategori, seni tari tradisional atau klasik dan seni tari modern atau  kontemporer.

Dalam buku Komunitas yang Mewujud; Tradisi Tari dan Perubahan di Jawa (Gadjah Mada University Press, 2009), ahli antropologi tari University of London, Felicia Hughes-Freeland, mengungkap bahwa tari tak sekadar seni pertunjukan.

Berdasarkan studi kasus jangka panjang yang dilakukannya  antara tahun 1982 dan 1999 tentang tradisi tati keraton Yogyakarta,tari merupakan bagian dari suatu politik representasi yang tidak hanya simbolik, tetapi juga diwujudkan dalam aksi. Menurut Felicia,tari tak sekadar seni menggerakkan tubuh. Lebih dari itu, tari membawa kita pada pemahaman akan nilai-nilai sosial dan budaya serta bagaimana orang sebagai bagian komunitasnya mewujudkan dan menggunakan nilai-nilai tersebut. Selain memiliki peran simbolis, tari juga berperan penting dalam pembangunan dan keberlangsungan komunitas nasional dan lokal. Tari dalam skala tertentu berperan dalam perubahan sosial.

Tari keraton Jawa mengalami perubahan dinamis terkait perdebatan, pemosisian, dan kebangkitan dalam politik budaya nasional. Tari keraton bukan kelanjutan ”alami” dari suatu tradisi sebelumnya,melainkan direkonstruksi sebagai rangkaian praktik terwujud yang terus digarap berdasarkan gagasan dari komunitas politik. Pada Zaman kolonial, tari keraton sebagai suatu tradisi serernonial, di zaman kemerdekaan menjadi tari klasik nasional yang artistik, dan kini bergumul dengan proses komoditisasi dunia pariwisata (YKR/LITBANG KCMPAS)