Menyalakan Api Belajar

Sumber: Kompas | Selasa, 26 Maret 2019

Menyalakan Api Belajar

Ketika dimutasi ke Desa Limbangan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Murniati sangat prihatin karena di desa itu banyak sekali anak putus sekolah. Bukan hanya anak SD, melainkan juga SMP dan SMA. Jiwa pendidikan Murniati terpanggil dan dia mengumpulkan data anak-anak putus sekolah.

Dia mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di samping SD Negeri 3 Cidadap, tempatnya mengajar. Dia mengajar ilmu dan keterampilan. Dia tak rela anak-anak dan orang dewasa terbelenggu kebodohan. Dia tahu persis, anak-anak itu tidak ada yang berniat gagal melanjutkan studi. Mereka terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena ketiadaan biaya, tak sanggup membayar transportasi, dan tak mampu membeli baju seragam. Tunas-tunas bangsa itu terpaksa dikorbankan karena orangtua mereka mengalami pemutusan hubungan kerja dan menganggur.

”Saya mulai bergerak tahun 1998 ketika krisis ekonomi melanda dan merembet ke berbagai bidang, semua bidang malah. Saya sedih melihat anak-anak itu hanya nongkrong di pinggir jalan. Pendidikan mereka terbatas dan andai dapat pekerjaan pun bekerja serabutan dan menjadi pekerja kelas bawah karena tak punya ijazah memadai,” kata Murniati di Desa Limbangan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (12/2/2019).

Ia pun mendatangi anak-anak itu dan mengajak mereka kembali ke bangku sekolah dan belajar lagi. Walau semula mereka takut belajar karena tak punya uang, Murniati menegarkan hati mereka dengan mengatakan tak perlu membayar biaya sekolah, buku, atau seragam. Anak-anak itu begitu gembira dapat belajar dan bersekolah lagi. Selain mereka yang sering luntang-lantung di pinggir jalan, Murniati juga menelusuri keberadaan mereka yang putus sekolah melalui informasi dari kartu keluarga dan kartu tanda penduduk. Dia juga mengajak mereka kembali menuntut ilmu. Pada saat itu pula ia mencari di desanya orang dewasa berusia 40 tahun hingga 55 tahun yang tunaaksara, tidak bisa mengaji, dan tidak bisa membubuhkan tanda tangan. Dia risau karena mereka hanya bisa membubuhkan cap jempol.

Murniati mengajak para guru di sekolahnya untuk ikut terlibat tanpa menjanjikan pembayaran lebih. Niat baiknya disambut baik rekan-rekannya. Mereka bahkan rela mengajar tanpa tambahan gaji. Murniati juga mendapat bantuan dari suami dan ketiga anaknya plus menantunya. Setelah terkumpul ratusan calon murid, Murniati kemudian membagi siswa ke dalam beberapa kelas. Ada kelas empat, lima, dan enam yang bersekolah setiap hari selepas tengah hari. Sementara kelas para orang tua diadakan seminggu dua kali. Dia juga membagi mereka dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 10 orang tiap kelompok. ”Dulu siswa SD hanya bersekolah sampai pukul 12.00 sehingga sesudah itu kelas kosong. Kami memanfaatkan kelas itu untuk kelas anak-anak putus sekolah. Mereka tanpa baju seragam dan tanpa alas kaki. Mereka boleh pakai baju apa saja sesuka hati mereka. Yang penting mereka semua mau sekolah,” ujarnya.

Metode sederhana

Para ibu dan bapak di desa itu juga antusias belajar. Khusus untuk mereka, Murniati memilih metode pengajaran sederhana agar mereka senang menerima ilmu. Kaum ibu diajarkan membaca melalui resep masakan. Bukan mengeja seperti siswa anak-anak. Sementara itu, para bapak mengenal dan belajar kata-kata lewat bahan bangunan dan pertanian.

Murniati sengaja menerapkan bahan pelajaran yang dekat dengan kebiasaan mereka sehari-hari agar memudahkan mereka mengenal huruf, membaca, dan mengingat hal itu. Metode itu berhasil membuat mereka antusias belajar dan gembira di kelas. Mereka juga saling menguatkan dan membantu yang lain agar tidak tertinggal. Untuk membaca Al Quran, Murniati cukup memakai metode Iqro yang biasa dipakai anak-anak. ”Saya ajarkan resep bolu kukus yang mudah dan murah. Tidak banyak bahan dan mereka mudah mengingatnya. Para bapak juga mudah mengingat cara menulis dan membaca bahan bangunan karena hal itu dekat dengan pekerjaan mereka,” ujarnya.

Alhasil, setelah pandai membaca resep, para ibu ingin mempraktikkan sendiri resep itu. Murniati dengan senang hati meluluskan permintaan mereka. Bahkan, dia pula yang menyediakan semua bahan dari sakunya sendiri. Tak pernah dia meminta bayaran. Para ibu itu membaca dan memasak bersama yang hasilnya mereka bagi bersama walau hanya sedikit. Mereka bahagia dan bangga membawa pulang kue buatan mereka sendiri untuk dicicipi keluarganya.

Setelah satu kelompok membuat kue, kelompok lain pun tak mau ketinggalan. Mereka juga ingin mencoba resep masakan lain, seperti kue bugis dari tepung ketan dan combro dengan beberapa variasi isi. Murniati membelikan bahan masakan dan membiarkan mereka memasak.

Setelah tiga tahun belajar, anak-anak yang bersekolah siang pun menghadapi ujian. Ada 50 anak yang ikut ujian. Mereka gelisah karena saat ujian didatangi para pejabat setempat bahkan ada kamera yang merekam ujian mereka.Kiprah Murniati rupanya terdengar para pejabat daerah itu dan mereka ingin tahu serta melihat langsung. ”Anak-anak risau karena mereka ujian tanpa dandanan rapi, tanpa seragam seperti lazimnya siswa ujian plus ditonton dan direkam. Saya menenangkan mereka dengan mengatakan, ujian saja dan jangan pikirkan yang lain. Tidak perlu ganti baju sepulang dari sawah, kebun, ladang, atau pasar setelah membantu orangtua mereka masing-masing. Cukup cuci tangan dan cuci muka hingga bersih,” kata Murniati dengan nada lembut.

Betapa bahagia Murniati ketika semua anak itu lulus ujian. Tanpa ragu dia mengajak mereka untuk sekolah lagi mengikuti paket B yang setara SMP. Dia sama sekali tak ingin hanya lulus SD. Tentu saja anak-anak itu luar biasa antusias menyambut keinginan sang guru. Para ibu dan bapak yang akhirnya mampu membaca itu juga diminta mengambil paket A. Mereka dianjurkan terus bersekolah dan punya ijazah meski bukan untuk melamar pekerjaan. Mereka menjadi contoh bagi anak cucu mereka agar tak lelah mencari ilmu dan terus belajar meski usia terus meninggi.

Kegigihan dan semangat positif Murniati sampai ke desa-desa sekitar hingga kecamatan tetangga. Orang-orang dewasa yang semula tak bisa membaca, tak ragu belajar. Mereka akhirnya tahu belajar adalah proses menyenangkan. Anakanak yang putus sekolah dari desa, kecamatan, bahkan kabupaten tetangga pun mencari Murniati dan semangat belajar mereka pun menyala. Bagi mereka yang telah selesai sekolah dan ingin mencari uang lewat usaha menjahit atau perias, Murniati memberikan mesin jahit atau kosmetik lengkap yang dia beli dari uangnya sendiri. Dia tak meminta uang pengganti tetapi mereka diminta kelak mengembalikan uang tersebut jika telah berhasil. Ia ingin pengembalian itu dalam bentuk benda yang sama karena akan digunakan adik-adik kelas mereka nanti.

”Intinya, saya ingin anak-anak belajar lagi, punya harapan lagi, punya mimpi lagi. Anak-anak Indonesia termasuk di Sukabumi harus pandai dan senang belajar. Saya bahagia bukan hanya desa dan kecamatan yang bebas tunaaksara. Target semua rampung wajib sekolah 9 tahun juga tercapai dan sekarang saya ingin target wajib belajar 12 tahun tercapai,” ujar Murniati yang akan pensiun tahun depan ini. Setelah bertahun-tahun mengajar anak putus sekolah, Murniati kerap didatangi sponsor dan lembaga yang ingin menyalurkan dana hingga puluhan juta rupiah. Namun, Murniati enggan mengelola dana tersebut. Dia meminta agar mereka memberikan bantuan dalam bentuk fisik yang berguna bagi anak-anak di PKBM. Mereka memerlukan ruangan untuk praktik, apalagi kini peserta di PKBM itu terus membeludak. ”Saya takut memegang uang amanah itu. Risiko dan tanggung jawabnya berat. Mending bangunan atau laptop buat anak-anak, bekas pun tak apa,” ujarnya.

https://www.facebook.com/JuaraBuku/
https://www.instagram.com/juarabuku/