JEJAK MULA “ULAR BESI” DI BATAVIA

Sumber: Kompas | Senin, 23 September 2019 | Hal 20
Jejak Mula “Ular Besi” Di Batavia

Peradaban perkeretaapian Ibu Kota berakar dari masa pemerintahan Hidia Belanda, sekitar 150  tahun silam. Beberapa potongan jejak sejarahnya kini masih terlihat samar di tengah pesatnya perbaikan pelayanan perkeretaapian dan pengembangan kereta perkotaan.

Jembatan beton selebar 1,5 meter melintas di atas anak Kali Ciliwung. Meski terkesan kokoh, jembatan yang memisahkan Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, dengan Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, itu sedikit bergoyang saat dilewati.

Di bawah lapisan beton, terlihat batang-batang kayu yang disusun membujur, serupa bantalan rel. Pada ujung jembatan di sisi timur, dua batang besi melintang sejajar mengarah ke jalan inspeksi anak Kali Ciliwung. Itu menegaskan dugaan adanya bekas rel kereta.

Mengikuti arah rel ke timur, sampailah ke permukiman padat di Jalan Kencur, di RT 002 RW 004, Kelurahan Ancol. Asih, warga Jalan Kencur, membenarkan jembatan penyeberangan itu eks jalur kereta. Rel juga melewati depan rumahnya dan diduga tersambung ke jalur arah Pelabuhan Tanjung Priok. Kini, rel sudah ditimpa berlapis-lapis beton jalan.

”Sewaktu rel aktif, kalau ada yang kirim-kirim barang, lewat sini. Saya ingat, binatang dari Sumatera dibawa kereta dan transit di sini,” ucap perempuan yang tinggal di Jalan Kencur sejak lahir tahun 1963 itu.

Komoditas yang diangkut dengan kereta ditransitkan di sejumlah gudang di sana. Asih mengenang, dulu pernah ada amish kecil yang kabur. Tetapi akhirnya di tangkap. Kemungkinan, beberapa dekade lalu, berbagai jenis satwa diangkut kereta ke jakarta, menuju Kebun Binatang Ragunan.

Kakak Asih, Emes (69), menambahkan, dahulu kereta yang menyeberangi kali lewat jembatan, membawa muatan kayu-kayu besar. Saat ini, potongan-potongan batang kayu berdiameter lebih dari 1 meter masih teronggok di RT 005 RW 006 Kelurahan Pinangsia, Jakarta Barat. Potongan kayu ini menandakan di sana pernah menjadi gudang kayu. Pengangkutan kayu dengan kereta berhenti di ujung masa jabatan Presiden B1 Soekarno.

Batavia-Buitenzorg

Aktivitas yang diceritakan Asih dan Emes tak lagi terlihat. Sisa rel itu sebenarnya bagian dari kisah asal-usul perkeretaapian di Ibu Kota, sejak hampir seabad sebelum Asih lahir.

Di masa penjajahan Belanda, rel itu bagian dari jalur Batavia-Buitenzorg (Bogor). Jalur kereta ini pertama yang melewati Batavia. Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) adalah perusahaan pelopor di balik terbangunnya rel rute ini.

Buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 1 (1997) terbitan Asosiasi Perkeretaapian Indonesia dan CV Angkasa mencatat, NIS dibentuk beberapa pengusaha swasta,Belanda yang mendapat konsesi dari pemerintah ”Negeri Kincir Angin” guna membangun jalur kereta di Hindia Belanda untuk pertama kalinya. `

Konsesi jalur Batavia-Bui-tenzorg didapatkan NIS pada 27 Maret 1864. Konstruksi yang dipimpin JP Bordes baru terealisasi 15 Oktober 1869. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Mijer menghadiri pencanangan pembangunan.

”Izin diberikan guna membantu pengangkutan hasil perkebunan, termasuk hasil tanam paksa, di wilayah Priangan Barat (berpusat di Suka bumi), seperti teh, kopi, kina, dan barang dagangan lainnya, ke Pelabuhan Sunda Kelapa (Batavia),” ujar Ketua Komunitas Jelajah Budaya Kartum Setiawan.

Dari sisi politik, Pemerintah Hindia Belanda memandang jalur transportasi penting untuk kelancaran hubungan administrasi pemerintahan, apa lagi gubernur jenderal sejak 1808 tinggal di Buitenzorg.

Lebar rel jalur Batavia-Bui-tenzorg ditetapkan 1.067 milimeter. Adapun jalur Kemijen-Tanggung memakai rel  berukuran 1.435 mm. Penyesuaian lebar rel ini sesuai keputusan Menteri Urusan Jajahan Belanda De Wall pada 27 September 1869, memperhatikan kesulitan keuangan NIS akibat pembangunan jalur Kemijen-Tanggung. Kartum mengatakan, pengurangan le- bar rel itu membuat NIS menghemat anggaran dari yang semula 4 juta gulden menjadi 3,3 juta gulden.

Pembangunan Batavia-Bui-tenzorg dilakukan bertahap. Buas yang lebih dulu siap ialah jalur Kleine Boom (Pasar Ikan)-Koningsplein (Gambir) lewat Stasiun Batavia, dioperasikan 15 September 1871

Ruas kedua yang dioperasikan ialah Koningsplein-Meester Cornelis (Bukit Duri) mulai 16 Juni 1872, dllanjutkan Meester Cornelis-Buitenzorg pada 31 Januari 1873. Meester Cornelis buatan NIS kinitak lagi difungsikan sebagai stasiun, tetapi menjadi depo atau bengkel kereta listrik.

”Sejak itu, Batavia-Buitezorg dapat dilalui kereta api dan berlaku untuk masyarakat umum,” ujar Kartum.

Total panjang rel 58,5 kilometer, terdiri dari 55,58 km jalur Batavia-Buitenzorg, 1,058 km jalur simpangan ke Meester Cornelis, dan 1,868 km jalur simpangan ke Kleine Boom.

Jalur ini memiliki 15 tempat perhentian untuk naik-turun penumpang. Tempat perhentian utama disebut stasiun atau hoofdstation. Adapun tempat perhentian yang lebih kecil di sebut halte dan overweg.

Namun, Hoofdstation Batavia tidak sama dengan Stasiun Jakarta Kota meski sama- sama peninggalan Belanda. Kartum menunjukkan foto sepuh sebagai panduan mencari sisa Hoofdstation Batavia yang di kenal sebagai Batavia Noord (Batavia Utara).

Potret itu menunjukkan pada 1928 terjadi kecelakaan kereta api di depan gedung Escomptobank. Kereta menjebol pagar stasiun hingga jalan raya. Jika dicocokkan, pagar stasiun mirip pagar beton setinggi 2 meter dan tebal 30-an cm di kawasan Kota Tua kini. Pagar itu membatasi area parkir di belakang Museiun Sejarah Jakarta (dulunya Stadhuis atau Balai Kota) dengan jalan menuju Taman Fatahillah.

Kartum mengoniirmasi pagar tembok itu adalah sisa asli dari ujung Stasiun Batavia.

Berdasarkan arsip foto iawas Kartum, stasiun terminus (terakhir) Batavia tepat di selatan Stadhuis. Stasiun itu disebut Batavia Noord karena perusahaan kereta api iainnya, Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS), sekitar tahun 1870 membangun stasiun yang beijarak 200-an meter di selatan Stasiun Batavia buatan NIS. Stasiun itu disebut Batavia Zuid (Batavia Selatan), serta tersohor dengan nama Stasiun Beos (berasal dari pengucapan singkatan BOS).

Pemerintah ikut serta

Buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 1 menginformasikan Pemerintah Belanda ikut serta meramaikan usaha jasa perkeretaapian di Hindia Belanda dengan mendirikan Staatspoorwegen (SS).

SS mengambil alih jalur-jalur yang dioperasikan swasta, termasuk NIS dan BOS. Kompas edisi 27 Maret 2014 mencatat, SS mengambil alih Stasiun Batavia Zuid dan jalur kereta BOS pada 1897. Tahun 1913, SS membeli jalur kereta Batavia-Buitenzorg milik NIS.

Tahun 1915, SS menyatukan pengoperasian Stasiun Batavia Noord dan Batavia Zuid dengan membangun satu stasiun utama baru pada lokasi Batavia Zuid. Bangunan Batavia Zuid pun dirobohkan pada 1926 untuk memulai perombakan.

Sambil menunggu pembangunan selesai, operasional kereta api dialihkan ke Stasiun Batavia Noord sehingga emplasemen ditingkatkan menjadi 16 jalur kereta. Saat itulah terjadi kecelakaan kereta tahun 1928 seperti terekam dalam foto lawas Kartum.

Stasiun baru diresmikan pada 8 Oktober 1929 dengan nama Stasiun Benedenstad yang kini dikenal sebagai Stasiun Jakarta Kota. Adapun bangunan Batavia Noord, bagian dari pelopor perkeretaapian di Batavia, dibongkar.

NIS boleh jadi perusahaan asal negara penjajah. Bagaimanapun perusahaan itu peletak batu pertama sejarah ”ular besi” di DKI Jakarta. Selamat Hari Kereta Api Nasional, 28 September 2019.