EVERYTHING IN BETWEEN

EVERYTHING IN BETWEEN

Suatu hari saya membaca bahwa banyak orang percaya hidup mereka cukup menarik untuk dijadikan novel. Saya rasa orang-orang itu benar, dan saya rasa saya bukan salah satu di antara mereka. Saya tidak merasa hidup saya cukup menarik untuk dijadikan novel. Yang membuat hidup seseorang menarik itu bukan hal-hal yang terjadi dalam hidup seseorang. Saya rasa, apa yang kalian pikirkan lah yang membuat sesuatu menjadi berharga. Ini alasan yang membuat beberapa orang merasa sedih ketika mereka akhirnya menikmati liburan panjang (kadang termasuk saya juga). Dan hal yang sama terjadi buat orang yang mendadak menangis ketika tiba-tiba ada kepik hinggap di tangan mereka (ini jelas saya).“It is not the moment that is unforgettable, it is the mind you have with it that makes it memorable.”

Buku ini bukan hanya tentang apa yang terjadi dalam perjalanan kami: bersepeda dari Belanda ke Indonesia. Saya tidak akan memberi tahu bagaimana kami bersepeda dari A ke B menuju Indonesia. Saya juga tidak akan membagikan itinerary atau hal-hal praktis lainnya. Saya akan membagikan pikiran, ide, keraguan, air mata, tawa, dan rasa ingin tahu saya sepanjang jalan, yang terangkum dalam pengalaman kami. Oke, mungking juga beberapa hal yang praktis. Supaya kalian bisa mengalami perjalanan ini seperti sedang mengayuh sepeda kalian sendiri.

Mengapa Everything in Between?
Kami tidak yakin apakah ini yang kami mau. Bekerja dari Senin sampai Jumat, dari pukul 09.00 sampai pukul 17.00, selama sisa hidup kami. Terjebak dalam perlombaan tikus di sekeliling kami.

Ada sebuah kalimat klise yang berbunyi “Traveling is not about the destination, but about everything in between [Perjalanan bukanlah tentang destinasi, tetapi tentang semua hal yang terjadi di antaranya]”. Ya, begitulah yang ada di pikiran kami!

Saya dan Diego bertemu di Jakarta pada 2013 saat kami sama-sama mengikuti perlombaan lari. Sejak itu kami pergi bertualang bersama. Dari road tripsampai perjalanan dengan sepeda. Dari lari, mendaki, hiking, sampai berkemah di alam bebas. Dari kecintaan kami pada olahraga hingga alam, dan segala hal di antaranya, kami mulai saling jatuh cinta.

Suatu hari, kami bercanda bahwa saya bisa saja bersepeda ke Jakarta. Kami menamakan perjalanan kami Everything in Between: karena ini adalah cara terbaik untuk menemukan semua yang ada di antara dua negara asal kami.

Tentu saja, banyak hal terjadi sebelum kami membuat keputusan untuk melakukan perjalanan bersepeda ini. Kami melakukan perjalanan bolak-balik untuk bisa bersama. Saya tinggal, bekerja, dan belajar di Jakarta demi bersama Diego. Pada akhirnya Diego memutuskan untuk pindah ke Belanda. “Karena aku sudah menghabiskan 1/3 hidupku di tempat yang sama,” ujarnya. Sejujurnya, setelah perjalanan ini selesai kami belum tahu di mana kami akan tinggal dan bagaimana (atau seandainya) kami akan terus bersama.

Saya mempunyai bisnis sendiri sebagai guru bahasa dan copywriter lepas. Diego bekerja di bagian logistik di perusahaan furnitur milik kakak ipar saya. Sepertinya hebat, kan? Pasangan muda, saling jatuh cinta, akhirnya bersama, dengan semua kemungkinan di dalamnya. Namun sebenarnya susah. Susah bagi Diego untuk beradaptasi dengan kehidupan orang Belanda. Susah buat saya untuk membuat Diego merasa betah. Kami tidak yakin apakah ini yang kami mau. Bekerja dari Senin sampai Jumat, dari pukul 09.00 sampai pukul 17.00, selama sisa hidup kami. Terjebak dalam perlombaan tikus di sekeliling kami.

Dengan perjalanan ini, kami ingin mengambil jeda sejenak dari kehidupan kami yang sibuk, untuk mencari tahu yang sebenarnya ada di luar sana. Dengan bersepeda, dari 1 hari ke hari berikutnya, untuk menjelajah, supaya kami lebih menyadari sekeliling, dan menemukan jawaban tentang kami.

Perjalanan kami ini juga punya tujuan lain, tidak hanya untuk memuaskan keingintahuan kami. Kami bersepeda sekaligus menggalang dana untuk amal. Karena tidak bisa memilih hanya satu jenis amal yang terpenting buat kami, kami memilih tiga: untuk sesama manusia, binatang, dan pohon. Lebih jelasnya: untuk anak-anak hebat di Yayasan Lestari Sayang Anak, untuk para relawan luar biasa di Jakarta Animal Aid Network, dan untuk para idealis yang realistis di Kebun Kumara.

Kami ingin melakukan perjalanan di bumi ini secara bertanggung jawab, mencari inspirasi baru, dan menginspirasi orang lain. Menginspirasi orang-orang untuk tidak sekadar mencari ya, tidak, kiri, kanan, atas, bawah, lebih, lebih cepat, atau lebih besar: tetapi untuk semua hal di antaranya yang benar-benar berharga.

https://mizanstore.com/everything_in_between_64889