EKSPRESI GENERASI Z

Sumber: Kompas | Sabtu, 28 September 2019 | Hal 10

Ekspresi Generasi Z

Tiap generasi ada zamannya, dan tiap zaman ada generasinya. Generasi Phi atau generasi Z Indonesia kini menunjukkan eksistensinya. Mereka pun punya sifat yang sama soal Indonesia

Demonstrasi mahasiswa dan pelajar sekolah me-nengah di berbagai kota beberapa hari terakhir menunjukkan eksisnya generasi Phi atau generasi Z Indonesia. Mereka yang selama ini dianggap tak peduli politik, egois, suka hura-hura, dan hal instan nyatanya peduli pada bangsanya.

Tanpa ada komando tunggal, generasi Phi berbondong-bondong ke lokasi unjuk rasa. Di Jakarta, mayoritas peserta menuju lokasi aksi memakai angkutan umum dan sepeda motor, bukan bus-bus seperti pada aksi satu generasi sebelum mereka.

Media sosial dipakai efektif berkomunikasi. Meski dari kampus dan sekolah berbeda, mereka bisa mengonsolidasikan diri serta menyuarakan sikap dan keresahan sama.

”Karakter utama generasi Phi adalah hiperkolektif gemar berkomunikasi,” kata pendiri Youth Laboratory Indonesia dan penulis buku Generasi Phi (Pengubah Indonesia), Muhammad Faisal, di Jakarta, Jumat (27/9/2019).

Generasi Phi adalah sebutan untuk pengelompokan generasi di Indonesia menurut situasi sosial-politik Indonesia. Saat Reformasi 1998, mereka berusia kurang 10 tahLu1 sehingga belum bisa memaknai reformasi yang mengubah Indonesia.

Padanan generasi Phi dengan pengelompokan generasi yang dipakai secara global ialah generasi Z. Pengelompokan ini didasarkan pada kondisi sosio-politik di Amerika Serikat untuk orang kelahiran tahum 1995-2010.

Namun, karakter dua generasi itu relatif sama. Mereka lahir saat teknologi informasi berkembang pesat sehingga kehidupan mereka dipengaruhi gawaidan internet. Mereka dilanda tsunami informasi hingga mudah terjebak informasi tak lengkap dan kurang dalam.

Karakter hiperkolektif generasi Phi, lanjut Faisal, mirip dengan karakter generasi Alfa, yaitu generasi pendiri bangsa Indonesia yang masa remajanya tahun 1900-1930.

Dua generasi ini sadar posisi mereka sebagai kelompok yang mengubah bangsa dan suka berkomunitas. Jika generasi Alfa berkumpul berdasarkan kelompok etnis dan agama, generasi Phi berkumpul atas kesamaan minat atau hobi.

Kondisi itu membedakan generasi Z Indonesia dengan negara lain. Media sosial dan internet di negara maju membuat generasi Z kehilangan privasi sehingga makin individualis dan stres, Di Indonesia, internet merekatkan mereka dan membuat lebih bahagia.

”Cara berpikir generasi Phi lebih mirip dengan Angkatan 1966 yang tak sefilosofis generasi pendiri bangsa, tapi mengutamakan pergerakan dan lebih cepat,” katanya. Karakter khas itu membuat unjuk rasa mereka beberapa hari terakhir mengejutkan banyak kalangan. Generasi Phi yang dianggap tak peduli politik dan lingkungan sekitar dan pragmatis ternyata peduli masa depan bangsa. Itu membuat banyak orang dari generasi sebelumnya memandang remeh aksi mereka.

Selain itu, dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Rahmat Hidayat, menilai generasi Z Indonesia lebih konservatif dan religius dibandingkan generasi baby boomer (setara generasi Beta) yang lebih liberal.

Di masa lalu, dosen di sejumlah kampus dipanggil dengan sebutan mas atau mbak saja. Kini di banyak kampus, mahasiswa antre mencium tangan dosen saat bertemu atau selesai kuliah. ”Literasi agama generasi Z lndonesia lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya,” katanya.

Pada saat bersamaan, generasi Phi lebih terbuka dengan seksualitas. Di media sosial, sebagian generasi Phi tak tabu membicarakan gaya pacaran atau kesehatan reproduksi. Munculnya poster-poster saat unjuk rasa bertuliskan kata-kata berbau seksual mengukuhkan itu. ”Internet membuat cara pandang generasi Phi tentang isu seksual dan kesetaraan jender tak lepas dari perspektif global,” kata Faisal.

Kondisi itu dinilai Rahmat memunculkan paradoks. Di satu sisi, generasi Z konservatif dengan penegakan nilai berorientasi kemapanan hidup, tetapi mereka juga egois. Mereka mengalami indoktrinasi nilai keagamaan konservatif meski teknologi dan lingkungan sosial membuat mereka fokus pada kepentingan diri.

Interpretasi

Menurut Faisal, generasi Phi memiliki interpretasi bebas tentang negara, bangsa, dan demokrasi. Mereka tak mengalami indoktrinasi seperti dialami generasi sebelmnnya.

Di era Orde Lama, pembangunan nasionalisme dan karakter bangsa mendominasi dan mewujud pada pelarangan musik ”ngak-ngik-ngok”. Orde Baru lebih membebaskan masuknya budaya populer Barat, tetapi tak boleh bicara ideologi bangsa di kampus dan sekolah.

Selain itu, selama lebih dari satu dekade sejak Reformasi, terjadi kekosongan narasi kebangsaan bagi pemuda. Saat itu, negara fokus menata sistem politiknya dan pemberantasan korupsi. ”Isu pemuda tak pernah dibicarakan,” katanya.

Tumbuh di masa transisi dari Zaman otoritarian ke alam demokrasi membuat generasi Phi harus berusaha ekstra mencari identitas, keyakinan, dan ideologi. Saat nilai konservatif ada di sekitar mereka, itu mereka ambil. Demikian pula nilai kedaerahan muncul sejak era desentralisasi. Akibatnya, pandangan generasi Phi berwarna-warni.

Meski generasi Phi lebih egois, mereka butuh afirmasi atau bertanya kepada generasi sebelumnya. Jadi tak mengherankan jika banyak anak muda itu meminta izin ikut unjuk rasa kepada orangtua atau dosen mereka. Itu hal janggal bagi generasi sebelumnya.

Pandangan generasi pendahulu, lanjut Rahmat, akan mengukuhkan sikap mereka. Situasi itu membuat kehadiran ”orangtua”, di keluarga, sekolah, kampus, masyarakat, dan negara menjadi penting. Para ”orangtua” itu perlu mendukung cara anak muda menyuarakan pandangannya sebaga bagian pendidikan politik ataupun kebebasan berekspresi.

Karena itu, ancaman Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memberikan sanksi kepada rektor yang mengerahkan mahasiswanya unjuk rasa sebagai hal kontraproduktif Sanksi itu hanya melanggengkan stereotipe generasi Z yang apolitis, tak peduli lingkungan sekitar, hedonis, dan pandangan negatif lain.

Seusai demonstrasi, tambah Faisal, diskusi setara antara mahasiswa dan pelajar dengan generasi pendahulu diperlukan. Tanpa diskusi itu, konsep Indonesia yang diinginkan pendiri bangsa sulit mereka raih. Padahal, 10-20 tahun lagi, mereka jadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa. (M ZAID WAHYUDI)