Belajar Melalui Buku, Selamat Datang di Juarabuku Online Shop

Api Awan Asap (Ganti Cover)

Stok Tersedia

Rp 34.850,00

Tanggal Terbit : 18 May 2015
Penerbit :

Katalog Terkait


Judul: Api Awan Asap (Cover Baru)
Penulis: Korrie Layun Rampan
Penerbit: Grasindo

suatu hal yang teramat substansial dibanding isi
cerita dan alur. Namun, tanpa setting , sebuah
novel akan menjadi abstrak.
Dalam Api Awan Asap (AAA) , setting yang
dipilih pengarang adalah tanah kelahirannya,
Kalimantan Timur. Kalau menurut logika,
mestinya novel ini berjudul “Api Asap Awan”,
sebab awan adalah butiran air atau es kecil yang
terlihat mengelompok di atmosfer, yang terjadi
karena bantuan debu atau asap akibat industri
yang higroskopik. Agaknya, pengarang secara
sadar tidak mengikuti alur seperti itu. Dengan
AAA, pengarang mendeskripsikan paradoks
antara kearifan tradisional masyarakat Dayak
mengelola hutan di satu pihak dan tindakan
pengusaha HPH dan HTI di pihak lain yang
membuka hutan Kalimantan Timur dengan cara
membakar lahan.
[...]”Bau asap api menyeruak dari luar lou.
Kebakaran hutan seperti momok dan hantu
yang menyerang kawasan desa dan kota. Di
cakrawala menggantung awan-awan asap yang
datang dari berbagai arah... mendung yang
menggantung, bukan mendung mengandung
hujan, tapi mendung asap api yang datang
dari lahan orang kaya dari kota” (hal. 34).
Pembakaran hutan oleh HPH dan HTI inilah
penyebab kawasan Kaltim tidak hanya berawan
(cloudy), tetapi juga tertutup awan (overcast).
Karena mengenal setting, pengarang
dengan amat cermat melukiskan suasana.
Kita diajak mengembara, memasuki belantara
di mana indigenous people (Dayak Benuaq)
bermukim, menyatu dengan alam dan hidup
bergantung pada alam. Di sebuah kawasan, tepi
Sungai Nyawatan, penduduk membangun lou
(betang, rumah panjang).
Dari lou itu, dua sahabat?Jue dan Sakatn?
setelah menempuh perjalanan 300 kilometer,
memasuki gua untuk mengambil sarang
burung walet. Jue yang baru sebulan menikahi
Nori, putri Petinggi Jepi, bertugas masuk ke
dalam gua sambil pinggangnya diikat dengan
tali plastik; sementara Sakatn menunggu di luar.
Karena diam-diam Sakatn juga mencintai Nori,
Sakatn lalu mengerat tali plastik itu. Akibatnya,
Jue tersesat dalam gua yang gulita.
Dua puluh tahun setelah peristiwa itu terjadi,
tatkala malam terakhir dari delapan malam
upacara perkawinan adat Sakatn-Nori, tiba-tiba
Pune, putri Nori dari bibit Jue, terperosok dalam
sebuah lubang aneh. Kakinya terasa dipegang
orang dari bawah tanah. Orang-orang mengira
yang mencekal kaki Pune adalah hantu tanah.
Namun, setelah khalayak ramai-ramai menarik
Pune dari longsoran tanah, tiba-tiba muncul
seseorang seperti manusia purba ke permukaan
tanah. Badannya putih pucat karena tak pernah
kena sinar matahari, rambutnya panjang
melewati tumit, dan matanya sipit. Tak ada yang
bisa mengidentifikasi bahwa manusia tanah
yang dikira tonoy itu adalah Jue, kecuali Nori
dan Petinggi Jepi.
Adegan yang penuh suspense itu, sekadar
menunjukkan salah satu kelebihan pengarang
di dalam bertutur. Hal ini tentu semakin
memperkuat setting dalam novel ini yang juga
menekankan betapa sebenarnya orang Dayak
(Benuaq) sangat memperhatikan pelestarian
lingkungan hidup. Unsur-unsur magis khas
suku Benuaq juga diangkat penulis, membuat
bulu kuduk berdiri. Ternyata, lubang celaka
yang merongga, yang mencederai Pune, persis
di situ dahulu berdiri sepokok beringin. Beringin
itu ditebang, dibakar, lalu di atasnya didirikan
lou (hal. 101). Kini areal sekitar pohon beringin
itu dijadikan arena untuk urusan upacara.
Dengan demikian, AAA boleh disebut “jilid
kedua” dari novel Korrie sebelumnya?yang
juga memenangkan sayembara penulisan
roman DKJ 1976 dan mengambil setting
Kalimantan Timur?Upacara . Dan menurut saya,
AAA dari segi mutu dan teknik penceritaan, tak
kalah dibanding Upacara . Bahkan, jauh lebih
dahsyat! Dan juga jauh lebih matang.
?R. Masri Sareb Putra 

Korrie Layun Rampan

Silahkan Tulis Review Anda Dibawah Ini

Bagaimana Anda menilai produk ini? *

1 * 2 * 3 * 4 * 5 *