Swasembada Garam, Mungkikah?

Sumber: Kompas | Sabtu, 07 Juli 2018

 

Evolusi penggunaan garam di Indonesia belum diikuti perubahan proses produksi. Sejumlah parasti Majapahit pada abad ke 14 menyebutkan garam dibuat dengan cara mengalirkan air laut ke ladang-ladang penjemuran di pesisir.

Persoalan muncul ketika penggunaan garam berkembang dari sekadar penambah rasa pada makanan menjadi bahan baku aneka produk industri. Garam dalarn negeri yang diproduksi mengandalkan cuaca, mengalami penurunan kualitas akibat cuaca yang tidak menentu. Padahal, standar untuk kebutuhan industri harus memiliki kadar NaCl setidaknya 97 persen dari basis kering. Produksi garam yang nyaris tanpa teknologi ini  memaksa pemerintah melakukan impor garam.

Dalam situasi ini, Indonesia berambisi melakukan swasembada garam. Secara garis besar terdapat dua pokok masalah di sektor garam, yakni ketidakmampuan sektor penggaraman lokal dalam mencukupi kebutuhan dalam negeri dan ketidakberdayaan usaha garam mengangkat kesejahteraan petani garam rakyat. Kajian mewujudkan svvasembada garam ini dikupas dalam buku Hikayat Si Induk Bumbu (Kepustakaan Populer Gramedia, 2018), yang ditulis oleh empat orang pakar dari Formn Diskusi Ekonomi Politik, Prof Dr Ing Misri Gozan, dkk.

Dari hasil kajian para pakar ini disimpulkan bahwa swasembada garam dapat terwujud melalui beberapa kondisi. Industrialisasi garam harus didorong. Upaya-upaya yang harus dilakukan antara lain deregulasi perizinan, penyediaan infrastruktur, pemilihan lahan di wilayah yang tepat, dan penggunaan teknologi untuk produksi massal. (IGP/LITBAN G KOMPAS).