Masyarakat Betawi di Masa Silam

Sumber : Kompas | Sabtu, 12 Mei 2018

Masyarakat Betawi di Masa Silam

Menurut para   ahli, etnis   Betawi lahir   sebagai hasil perkawinan  antar-etnis yang datang ke Jakarta dengan penduduk setempat pada .abad ke-17 Etnis Betawi merupakansuku yang tingkat pernikahan antar-etnisnya paling tinggi. Karena itu, dapat di katakan ,bahwa untuk mencari orang Betawi  cukup sulit. Seiring semakin banyak terjadi perkawinan orang Betawi dengan mereka yang berbeda etnis, pemakaian bahasa Betawi pun semakin berkurang. Bahasa yang digunakan di masyarakat umum bukan lagi kosakata khas Betawi, melainkan bahasa Indonesia ragam nonformal dengan lafal dan ciri-ciri morfologi bahasa Betawi.

Ketika terjadi penggusuran untuk pembangunan besar-besaran di Jakarta pasca 1950-an, penduduk asli Betawi tercerai-berai. Mereka harus bergeser ke daerah pinggiran. Lahan semakin sempit dan terjadi perubahan peruntukan lahan. Lahan yang dulu berupa kebun berubah menjadi gedung sehingga mata pencarian penduduk ikut berubah, darik bertani dan berkebun menj adi buruh, pedagang, pegawai, dan lain-lain.Lahan yang kian sempit juga menyebabkan anak-anak kehilangan tempat bermain. Berbagai alat permainan dari hasil kebun juga telah ditinggalkan.

Abdul Chaer dalam buku Betawi Tempo Doeloe: Menelusuri Sejarah Kebudayaan Betawi (Masup Jakarta, 2015) menguraikan bagaimana perkembangan kebudayaan Betawi hingga era tahun 1950-an. Era ketika kebudayaan etnis Betawi dapat dikatakan masih utuh. Diungkapkan unsur-unsur kebudayaan Betawi, yang meliputi mata pencarian, bahasa, kelengkapan hidup, organisasi sosial, daur  hidup dan upacara, pendidikan, kepercayaan, kesenian, dan permainan anak  (RPS/LITBANG KOMPAS)