Iman dan Ilmu Yang Membebaskan

Sumber: Kompas | Sabtu, 11 Februari 2017

Iman dan Ilmu Yang Membebaskan

Dalam konstitusi pastoral hasil Konsili Vatikan II tahun 1965, yaitu ”Gaudium et Spes”, sejak awal dinyatakan ”Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini, terutama yang miskin dan telantar, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus pula” (GS 1). Maka, Gereja menghayati hidup dan tugas pengutusannya sebagai ”sakramen keselamatan bagi semua”. Gereja harus terlibat dalam penderitaan, pergulatan, dan usaha pembebasan manusia, terutama mereka yang kecil dan miskin.

Terkait tugas pengutusan Gereja itu, teologi dijalankan dan dikembangkan dalam kerangka komunitas sehingga dari sudut metode ataupun isi, usaha inkulturasi atau kontekstualisasi menjadi tantangan terbesar Gereja. Seluruh pendekatan teologi semacam itu disebut sebagai pendekatan ”teologi berdimensi kemasyarakatan” atau ”teologi dari bawah”. Teologi sosial yang berpangkal pada pengalaman dan masalah manusia di tengah konteks kemasyarakatan konkret, dengan segala segi kehidupannya seperti politik, ekonomi dan sosial budaya.

Menurut JB Banawiratma, SJ dan J Muller, SJ dalam Berteologi Sosial Lintas Ilmu: Kemiskinan sebagai Tantangan Hidup Beriman (Penerbit Kanisius, 1993), teologi sosial membutuhkan kerja sama dengan ilmu-ilrnu sosial dalam rangka melakukan refleksi sosial. Refleksi sosial merupakan refleksi etis-sosial atas hasil analisis sosiél. Ilmu-ilmu sosial membantu menganalisis situasi sosial konkret yang dialami, dan memberi inspirasi pelayanan atau keterlibatan umat dalam perubahan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. (YKR/LITBAN G ”KOMPAS”)