Gereja Diaspora, Gereja Metropolitan

Sumber: Kompas | Sabtu,24 Juni 2017

Gereja Diaspora, Gereja Metropolitan

Manusia dan kehidupan masyarakat bukan batu. Batu pun susunannya dalam sekian juta tahun dapat berubah, tulis YB Mangunwijaya di awal buku Gereja Diaspora (Penerbit Kanisius, 1999). Nah, apalagi manusia, tumbuhan, dan hewan terus berubah secara alami, baik bentuk maupun sifatnya. Ada yang berubah cepat, ada yang lambat. Begitu pula Gereja Katolik dalam hakikat kepercayaan atau imannya tetap sama, tetapi bentuk, ungkapan, bahasa, dan simbolisasinya amat dinamis. Selalu menyesuaikan diri dengan zaman. Fleksibel, namun teguh dalam prinsip (hal 18).

Di zaman industri-modern, wajah Gereja tak lagi berciri Gereja teritorial tradisional, di mana komunitas umat relatif homogen, berbudaya perdesaan, keluarga utuh hidup bersama pagi sampai malam, umat saling kenal akrab, mudah kumpul ibadat bersama, dan seterusnya. Gereja di zaman modern, bahkan pascamodern, berciri Gereja metropolitan. Gereja yang berkembang seiring urbanisasi, berubahnya desa menjadi kota-kota juga penetrasi gaya hidup atau metropolitan way of life ke desa-desa.

Gereja metropolitan adalah Gereja diaspora. Komunitas umat amat heterogen, serba tersebar dan terpencar, terbuka pada mobilitas perpindahan umat yang tinggi karena tidak tinggal menetap lama. Keluarga tidak selalu dapat berkumpul bersama karena aktivitas sehari-hari serba sibuk. Umat jarang saling kenal akrab dan irama hidup mengikuti tempat bekerja, sekolah, atau aktivitas sosial lainnya. Lewat buku ini, Romo Mangun ingin mengajak umat Katolik berani memasuki situasi diaspora yang penuh kesulitan, tetapi juga tetap menawarkan kebahagiaan mendalam. (YKR/LITBANG KOMPAS).