Sampah Penunjang Minat Baca

Sumber: Kompas | Senin, 17 April 2017

 

RR Hendarti

Sampah Penunjang Minat Baca

Matahari siang itu cukup terik. Namun, udara seiuk-terasa di ruang tamu RR Hendarti yang disulap

menjadi perpustakaan desa. Belasan anak asyik memilih dan membaca buku serta mengoperasikan tiga unit komputer. Pada bagian depan pekarangan terparkir sepeda motor roda tiga serta

aneka sampah anorganik dalam karung. OLEH MEGANDIKA WICAKSONO

Bukan hanya ruang tamu yang dijadikan perpustakaan, motor roda tiga berwarna hijau bantuan dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, itu pun sewaktu-waktu dapat disulap menjadi perpustakaan keliling. Tiga rak kayu berisi ratusan buku bisa dibongkar pasang pada sisi depan dan kanan-kiri bak motor dengan pengait besi.

”Minat baca anak-anak akhir-akhir ini mulai berkurang. Dengan berkeliling desa membawa buku sambil mengumpulkan sampah, saya ingin membangkitkan kembali minat baca anak-anak. Istilahnya dengan jemput bola,” kata Hendarti yang setiap akhir pekan dan hari libur berkeliling desa mengumpulkan sampah sekaligus meminjamkan buku.

Hendarti yang sehari-hari bekerja sebagai Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Muntang, KecamatanKemangkon, Kabupaten Purbalingga, telah mengelola Perpustakaan Desa Pelita  sejak 2007. Perpustakaan yangada  sejak tahun 1980-an itu semula berlokasi di balai desa. Namun, karena sepi pengunjung, buku-buku perpustakaan di pindahkan keruang tamu rumahnya.

”Saat itu perpustakaan di balai desa sepi karena warga dan anak-anak mungkin rikuh pakewuh (segan) datang ke balai desa,” ujarnya saat ditemui pada Rabu (29/3).

Setelah dipindahkan ke rumahnya, anak-anak tidak serta-merta banyak yang datang membaca. Istri Agustinus Suryanto (44) itu mesti memancing dengan memberikan hadiah bagi  anak-anak yang rajin datang ke perpustakaan. ”Anak yang rajin datang sampai sepuluh kali akan mendapatkan pulpen. Datang sampai 20 kali dapat penggaris, dan seterusnya,” katanya.

Pancingan itu cukup mengena. Setidaknya hingga 2015, hampir setiap hari sejak perpustakaan itu buka pukul 13.00 sampai pukul 21.00, ada 20 anak-anak yang datang dan membaca buku di Sana. Namun, sekitar 2016 minat baca itu kembali surut. ”Dari yang biasanya setiap hari ramai, pada 2016 hanya di akhir pekan saja anak-anak banyak yang datang untuk membaca buku. Salah satu faktor penyebabnya adalah maraknya penggunaan gadget (gawai),” kata ibu dari Arya Dafa R (18) dan Arya Talita S (12) itu.

Limbah pustaka

Untuk mengatasi hal itu, Hendarti yang juga mengelola Bank Sampah Sampah Sahabatku kemudian berinisiatif membawa ratusan buku itu keliling Desa Muntang. Pada awal 2012 dia dan suami memesan tiga rak kayu seharga Rp 300.000 untuk dipasang di motor roda tiga.

Sembari mengumpulkan limbah anorganik, Hendrarti berkeliling meminjamkan buku. “ Ternyata yang pinjam buku hanya anak-anak, melainkan juga ibu-ibu rumah tangga. Dari 800 orang yang meminjam buku, sekitar 80 persen adalah anak-anak, lainnya adalah orang dewasa,” papar sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Plotik Jurusan Administrasi Negara Universitas 17 Agustus 1945 Semarang itu.

Menurut Hendarti, dengan terobosan itu, minat baca anak-anak dan warga di desa yang di huni 1.800 jiwa itu nulai meningkat. Selain itu, warga  juga didorong untuk rnengelola sampah dengan Cara mamilih dan memilah lalu menyerahkan ke bank sampah. ”Biasanya sampah anorganik hanya dibuang begitu saja atau dibakar. Melalui bank sampah, Warga mulai mengelola sampah,” ujarnya.

Dari pengelolaan bank sampah, meski baru  terkumpul sekitar satu kuintal per bulan, sampah anorganik itu kemudian diolah menjadi aneka kerajinan tangan oleh 20 ibu rumah tangga pengelola bank sampah. “Botol minum bekas bisa dijadikan bunga hias dan tas. Dijual dengan harga Rp 50.000-60.000 perbuah dengan cara online, Perbulan bisa terkumpul dana Rp 500.000 sampai 1 juta,”

kata Hendarti.

Tanpa menarik biaya sewa buku, Hendarti meminjamkan maksimal dua buku kepada setiap orang dengan jangka waktu satu minggu dan bisa diperpanjang. Siapa saja bisa meminjam, termasuk mereka yang belum atau tidak menyerahkan limbah sampah kepada bank sampah.

Mereka yang menyerahkan limbah sampah namanya akan dicatat dan sampahnya akan ditimbang. Setiap enam bulan sekali, mereka berhak menerima uang senilai sampah yang dikumpulkan. ”Warga yang belum menyerahkan sampah bisa tetap meminjam, tetapi diharapkan di kemudian hari tergerak ikut mengumpulkan sampah,” katanya.

Meski ada yang mencibir usahanya karena dianggap kurang kerjaan, sejumlah Warga desa mengaku senang dan mengapresiasi upaya Hendarti meningkatkan minat baca tersebut. Marsinah (54), warga RT 008 RW 003 yang sehari-hari membuka salon dan rias pengantin, menyampaikan, dengan membaca buku, pengetahuannya jadi bertambah.

”Meski sudah tu,  dengan membaca jadi bisa tambah Wawasan dan pengetahuan baru,” kata Marsinah sambil menunjukkan buku kreasi Hantaran Pengantin yang baru saja dipinjam.

Sutarmi (43) menambahkan, hobi membaca Siti Giantri (9), anaknya,  tersalurkan di perpustakaan desa tersebut. ”Di rumah, buku yang adapaling buku sekolah. Kalau mau baca buku cerita, Siti datang dan pinjam ke perpustakaan desa,” kata Sutarmi dan diamini oleh Siti yang mengaku suka membaca buku dongeng.

Sejumlah penghargaan pun diterima Perpustakaan Desa Pelita Desa Muntang. Penghargaan itu antara lain Juara I Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Tingkat Kabupaten Purbalingga pada 2013 dan Juara Harapan I Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Tingkat Prodnsi Jawa Tengah pada 2014.

Kini, perpustakaan desa itu  mengoleksi 2.000 judul hasil berbagai pihak. Koleksi buku terdiri  atas berbagai tema, seperti  kesustraan, ilmu sosial, pengetahuan alam,  agama, dan iilsafat.

Hendarti berharap minat baca anak-anak dan warga sekitar terus terjaga. “Semoga perpustakaan ini tetap menjadi ‘petita’. Dengan membaca, wawasan dan pengetahuan warga bisa bertambah,’’ katanya