SEKOLAH GRATIS SANG JURU PARKIR

Sumber: Kompas | Senin, 24 Oktober 2016 | Hal 16

Undang Suryaman

SEKOLAH GRATIS SANG JURU PARKIR

Undang Suryaman bukan orang berada. Pekerjaannya sehari-hari pun ”hanya” juru parkir. Tetapi, jiwa sosialnya amat tinggi. Ia rela menyisihkan penghasilannya yang pas-pasan untuk mendanai sekolah gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu.

OLEH DWI BAYU RADIUS

ndang tinggal di sebuah rumah sederhana di permukiman padat di Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Untuk mencapai rumah itu, kita mesti berjalan kaki 100 meter melewati gang-gang sempit yang becek  akibat sisa air hujan.

Rumah tersebut sekaligus berfungsi sebagai Taman Kanak-kanak (TK) Nafilatul Husna Ataullah dan Taman Pendidikan AlQuran (TPA) Raudlotul Jannah yang diperuntukkan terutama bagi anak-anak dari keluarga tak mampu. Undang menyulap ruang tamu rumahnya yang hanya sekitar 16 meter persegi menjadi kelas sekaligus perpustakaan. Ruang yang diberi alas karpet plastik itu terasa sesak dengan jejeran rak, tumpukan meja lipat, dan mainan.

”Kalau malam, (kelas ini) jadi kamar tidur keluarga. Saya, istri, empat anak, dan nenek tidur di sini,” kata Undang yang mendirikan TK dan TPA itu pada 2012.

Undang juga memanfaatkan rumah mertuanya untuk dijadikan kelas. ”Saya sampai ngacak-ngacak rumah mertua. Ada dua ruang tidur di rumah itu, masing-masing berukuran 10 meter persegi, juga dipakai untuk belajar,” ujarnya sambil tertawa, awal Oktober lalu.

Pria berusia 40 tahun itu terobsesi menyediakan pendidikan bagi anak- anak tak mampu karena ia sendiri tak bisa mewujudkan cita-citanya untuk sekolah. Undang yang lahir dan besar di Desa Talagasari, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, hanya bisa mengecap pendidikan sampai tingkat SD. Keinginannya untuk sekadar melanjutkan pendidikan ke SMP kandas.

”Waktu SD, saya harus jalan kaki 12 kilometer untuk sampaj di sekolah. Kalau ke- SMP saya mesti jalan dengan jarak dua kali lipat. Saya tetap menuntut untuk sekolah,” ucapnya.

Namun, Undang harus menerima kenyataan orangtuanya yang hanya petani gurem tidak sanggup membiayai sekolahnya. Undang sempat marah, tetapi ia tak punya daya untuk mengubah keadaan. Ia hanya bisa memendam keinginan untuk sekolah. Ia juga membayangkan suatu ketika, jika memiliki rezeki lebih dan umur panjang, ia akan menyekolahkan anak-anak tak mampu.

Lama terpendam, angan itu mulai terwujud pada 2012 ketika ia berhasil mendirikan tempat belajar untuk anak-anak tak mampu di sekitar tempat tinggalnya. Namun, langkah pertamanya itu langsung dihadang berbagai kendala. Sejumlah warga tak percaya pada kesungguhan Undang membuka sekolah.

”Mungkin melihat saya hanya seorang juru parkir. Pendidikan saya dan istri saya juga rendah. Ada yang bilang saya miskin. Sekolah yang saya dirikan bohong-bohongan,” ujarnya.

Cibiran bermunculan, bahkan fitnah menyebar. Undang dituduh memungut bayaran ratusan ribu rupiah dari setiap muridnya, padahal mereka hanya belajar di masjid. Untuk menepis tuduhan seperti itu, Undang menemui para orangtua murid dan menjelaskan persoalannya.

Awalnya, hanya ada 18 anak yang dititipkan orangtuanya belajar di sana. Setahun kemudian, pada 2013, jumlah murid meningkat menjadi 25 orang.

Selama dua tahun pertama, Undang masih merogoh koceknya untuk membiayai pengeluaran taman belajarnya. Agar pengeluaran bisa ditekan, ia memanfaatkan ruangan masjid untuk tempat belajar. Belakangan baru ia memanfaatkan rumahnya dan rumah mertuanya.

Pada 2014, Undang berhasil meningkatkan status taman belajarnya menjadi TK Nafilatul Husna Ataullah dan TPA Raudlotul Jannah. Hal itu dilakukan setelah ia mengikuti lokakarya pendidikan yang digelar Ikatan Guru TK Al Quran Jawa Barat. Dari pelatihan itu, ia memperoleh pengetahuan imtuk menentukan kurikulum dan mendirikan TK.

Tukang parkir

Undang bukanlah orang kaya. Sehari-hari ia bekerja sebagai juru parkir di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah Undang di Rancaekek.

Pekerjaan yang telah ia lakoni sejak tahun 1992 itu hanya memberikan penghasilan rata-rata Rp 50.000 per hari. Penghasilannya yang pas-pasan ia sisihkan Rp 10.000 untuk biaya operasional taman belajar. Namun, uang sebesar itu tak cukup untuk menutup pengeluaran taman belajar.

Laki-laki yang di kalangan mahasiswa Fikom Unpad dipanggil Jack itu akhirnya mengambil pekerjaan tambahan sebagai pegawai tempat pencucian mobil di Jalan Buah Batu, Kota Bandung. ”Saya kerja di pelataran parkir kampus dari pagi sampai pukul 17.00. Lalu, saya kerja lagi di Jalan Buah Batu mulai pukul 18.00 hingga pukul 03.00,” katanya.

Ia sudah tiba lagi di Fikom Unpad pukul 07.00. Undang letih luar biasa sehingga sering mengenakan kacamata hitam untuk menyamarkan wajahnya yang pucat. ”Saya sering merasa tak enak badan. Sabun untuk mencuci mobil juga mengandung obat. Tangan jadi bengkak, kaku, dan kasar. Kalau kena kulit yang lecet, pasti sangat perih,” tutur Undang.

Pekerjaan sebagai tukang cuci mobil memberi Undang tambahan penghasilan sekitar Rp 50.000 per hari. Di kampus, dia sesekali juga membersihkan mobil mahasiswa agar mendapat upah tambahan.

Istri Undang, Yani Novitasari, terharu melihat ikhtiar keras suaminya. Ia memutuskan membantu mencari uang dengan bekerja di tempat pencucian mobil yang sama dengan suaminya. ”Seharusnya saya membahagiakan dan menghibur dia..” cetus Undang tak menyelesaikan kalimatnya

Suatu ketika pada 2013, pemilik pencucian mobil takjub melihat kegigihan Undang dan istrinya mencari uang untuk mendanai taman belajar. Sang bos terketuk hatinya dan akhirnya memberikan bantuan berupa uang sewa rumah untuk aktivitas sekolah selama satu tahun. Ia juga memberikan bantuan buku gambar, pensil, penghapus, dan buku belajar membaca AlQuran.

”Dia orang pertama yang membantu saya. Setelah itu, dukungan dari mahasiswa juga mengalir, antara lain berupa karpet dan alat tulis,” kenang Undang. Sekarang ini, sebaglan besar pengeluaran TK dan TPA ditutup dari donasi para dermawan.

Mereka yang belajar di TPA tak dipungut bayaran, Kotak sumbangan disediakan untuk peserfa TPA yang ingin mendonasikan uang. Jika dibuka, kotak itu biasanya hanya terisi uang receh pecahan Rp 500-Rp 1.000.

Murid TK dari keluarga mampu dikenai iuran paling banyak, Rp 25.000 per bulan. Mereka yang tidak mampu membayar dibebaskan dari iuran. ”Ada juga orangtuanya yang hanya bisa memberikan beras untuk biaya sekolah,” cerita Undang.

Seiring waktu, TK dan TPA yang didirikan Undang semakin diminati orang. Saat ini, murid TK berjumlah 60 orang, sedangkan TPA 120 orang. ”Sekitar 75 persen murid TK berasal dari keluarga tidak mampu,” katanya.

Dulu, Undang dan istrinya yang mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung. Belakangan, istrinya yang pernah mengajar di sebuah TK mengajak beberapa Warga untuk ikut mengajar. Saat ini, ada 5 guru TK dan 10 guru TPA yang mendidik murid-murid. Mereka rela mengajar tanpa dibayar.

Kadang, jika ada dana, mereka diberi honor Rp 10.000. Namun, uang itu biasanya digunakan untuk membeli bahan makanan. Mereka memasak bahan itu dan makan bersama-sama.

Undang kini bahagia. Impiannya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga tak mampu sudah terwujud. ”Saya tak punya ilmu dan harta Hanya punya tenaga, dan itu saya gunakan untuk berbagi,” ujar Undang merendah.