Perjuangan Tak Kenal Lelah

Sumber: Kompas | Kamis, 27 Juli 2017

 

Perjuangan Tak Kenal Lelah

oleh WISNU DEWABRATA

Saat usianya beranjak remaja, Tolhas Damanik (43) memutuskan untuk hijrah ke Jakarta demi melanjutkan studinya di tingkat sekolah menengah atas setelah terhenti selama dua tahun. Bagi aktivis sekaligus penasihat hak-hak kelompok disabilitas lembaga swadaya masyarakat General Election Network for Disability Access itu, Ibu Kota akan memberikan kesempatan kedua.

Saat itu Tolhas yang juga penyandang tunanetra berharap masa depannya lebih baik. Keinginan keras Tolhas untuk belajar setinggi mungkin terinspirasi perkataan sang dokter spesialis glaukoma, yang menangani dirinya sejak lahir.

Saat dewasa, dokternya berterus terang, mata Tolhas akan buta total. "Dia juga meminta saya mulai memikirkan masa depan dan apa yang akan saya kerjakan untuk hidup saya," ujar Tolhas, awal Juli lalu.

Sang dokter berkeyakinan Tolhas masih bisa melanjutkan studi asal tak mudah menyerah dengan kondisinya itu. Pendidikan menurut dia adalah jalan keluar.

Hal itu sebetulnya sudah dilakukan keluarganya sejak Tolhas masih usia taman kanak-kanak sampai tingkat sekolah menengah pertama. Orangtua Tolhas sengaja memasukkan anak mereka ke sekolah biasa.

Tolhas memang dididik dan diperlakukan sama seperti ketiga kakaknya yang terlahir normal. Dia mengandalkan terutama pada indera pendengaran dan kemampuannya mengingat. Otak Tolhas sendiri terbilang encer sehingga tak hanya sekadar mampu mengikuti, dia sering masuk peringkat 10 besar hingga SMP.

Sayangnya, di tingkat sekolah menengah atas (SMA), beberapa mata pelajaran yang didapat semakin banyak dan rumit serta membutuhkan indera penglihatan, seperti pelajaran Kimia, Biologi, dan Fisika. Sekolah dan beberapa guru saat itu juga tak bisa banyak membantu mengatasi keterbatasan Tolhas. Puncaknya, dia tak naik kelas.

Tolhas juga terpaksa keluar setelah sekolah menyatakan tak mampu lagi memfasilitasinya untuk belajar. Kondisi itu sempat menjadi pukulan telak bagi Tolhas, yang sejak awal memang punya keinginan sangat kuat untuk tetap bisa bersekolah dan bahkan berkuliah.

Dia tak ingin menyerah pada keadaan dan stigma di masyarakat, yang memperlakukan orang disabilitas seperti dirinya menjadi individu yang tak bisa apa-apa. Kebanyakan orang beranggapan tunanetra seperti dirinya cukup dimasukkan ke panti untuk diajari keterampilan bermusik, menyanyi, atau memijat.

"Kebanyakan orang kita ini, kan, maunya yang gampang saja. Makanya, sekarang ada yang namanya pendidikan inklusif. Padahal, kalaulah sekolah bisa menangani anak berkebutuhan khusus dengan program khusus, maka masukkan saja anak itu ke sana. Biar sekolah luar biasa (SLB) menangani kasus yang sulit. Selain itu, pemerintah juga harus mampu menjamin mereka yang berasal dari keluarga tak mampu. Toh, jumlahnya tak banyak," ujar Tolhas.

Berangkat ke Jakarta

Tolhas yang telah bulat tekadnya nekat berangkat merantau ke Jakarta, meninggalkan tanah kelahiran sekaligus tempatnya dibesarkan, Pulau Bangka. Orangtua dan keluarga besar Tolhas saat itu tetap menentang keinginan merantau ke Jakarta.

"Tetapi, mereka masih tak yakin saya bisa survive di Jakarta," kenang penyandang gelar Master Pendidikan bidang Rehabilitasi dan Konseling Kesehatan Mental Klinis asal Ohio University, Amerika Serikat, itu.

Di Jakarta, dia lalu tinggal di kontrakan bersama kedua kakaknya yang juga berkuliah. Namun, di Ibu Kota ia harus menemui banyak penolakan dari beberapa sekolah yang dia datangi.

Sampai satu waktu dia lantas ditawari untuk ikut "sekolah malam", mengambil program kelompok belajar Paket C dan kemudian ujian penyetaraan tingkat SMA.

Walau sempat tertunda dua tahun, akhirnya dia pun tamat SMA. Tolhas lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan mendaftar ke Universitas Negeri Jakarta jurusan Bimbingan dan Konseling.

Dia juga berhasil membuktikan mampu hidup mandiri selama di Jakarta, termasuk bepergian setidaknya dari rumah kontrakannya di kawasan Pasar Minggu ke kampus di Rawamangun.

Tolhas mengaku awalnya banyak belajar bepergian dan berorientasi mobilitas secara mandiri dari para rekannya dan sukarelawan di Yayasan Mitra Netra, tempatnya beraktivitas. Bahkan, secara berkala, mereka punya kegiatan rutin mendaki gunung.

Dia berhasil membuat orangtuanya tenang setelah orangtuanya diajak untuk berkeliling naik angkutan umum keliling Jakarta.

Meski begitu, di Jakarta, dia pernah dirampok di Pasar Senen dan ditabrak sepeda motor.

Ketekunan dan keuletannya membuahkan hasil manis. Pada tahun 2006 Tolhas mendapat beasiswa dari Ford Foundation untuk belajar di Ohio University. Saat belajar di AS tersebut, dia juga banyak mendapatkan bantuan dari pihak universitas dan juga para sesama pelajar dan mahasiswa asal Indonesia di sana.

Lingkungan belajar serta fasilitas yang diberikan di universitas di sana menurut dia sangatlah membantu. Proses pembelajaran pun disesuaikan dengan mahasiswa berkebutuhan khusus seperti dirinya. Pihak dosen bahkan secara spesifik bertanya tentang apa yang dibutuhkan sebelum memulai perkuliahan.

"Mereka juga memastikan hambatan-hambatan yang ada dihilangkan. Fleksibilitasnya sangat tinggi, tetapi tidak berarti mengurangi bobot penilaian. Jadi, metode bisa pakai apa saja, tetapi dengan kualitas hasil yang sama. Hal itu yang belum ada di kita," ujar Tolhas.

Sekembalinya dari AS di tahun 2010, Tolhas mengawali kariernya bekerja untuk lembaga nirlaba internasional Helen Keller International. Saat itu dia menjadi koordinator dan juga mentor untuk melatih para guru dan dosen terkait dengan seputar penyandang disabilitas dan orang berkebutuhan khusus, yang digelar di enam provinsi.

Pada tahun 2013, kegigihan serta dedikasinya yang kuat di bidang keahliannya itu mendapat ganjaran penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam bentuk Education Award 2013. Tolhas dianggap berjasa sebagai tokoh yang mendukung pemerintah dalam pengembangan pendidikan inklusif.

Hingga saat ini Tolhas juga aktif di bidang pemberdayaan para penyandang disabilitas, bukan lagi sebatas isu pendidikan, melainkan juga merambah ke bidang pemberdayaan politik serta isu-isu perburuhan. Dia juga terus berupaya memperjuangkan kesetaraan hak dan pengakuan terhadap keberadaan para penyandang disabilitas di masyarakat sebagai sekadar sebuah keberagaman biasa.