Pak Guru Yang Ingin Terus Merdeka

Sumber: Kompas | Kamis, 4 Mei 2017 | Hal 16

 

Pak Guru Yang Ingin Terus Merdeka

“Saya merdeka ketika anak-anak bisa sekolah dan orangtua tidak buta huruf.” Pernyataan itu keluar dari mulut Warkina (38), guru honorer di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dia tak punya rumah. Namun, dirinya membangun taman baca, dua sekolah pendidikan anak USIB dlni, dan giat membasmi buta huruf di desanya.

OLEH ABDULLAH FIKRI ASHRI

Matahari baru saja terbenam di Desa Suranenggala, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten.Cirebon, Minggu (30/4). Namun, tiga perempuan paruh baya rnerasa tercerahkan ilmunya.

Kami sudah tahu di mana RA  Kartini lahir, di Jepara,” ujar Sutarni (55), menunjukkan kertas bergambar wajah pahlawan emansipasi perempuan tersebut berikut biodatanya.

Sore itu, Sutarni yang tak tamat sekolah dasar baru saja menerima materi membaca dan menulis biodata RA Kartini. Ia juga telah mampu membaca lirik lagu ”Ibu Kita Kartini”.

Begitulah sekilas aktivitas kelas membaca, menulis, dan berhitung atau calistung yang digagas Warkina, warga setempat. Tempat belajarnya sederhana, halaman nunah Kimi (67), ibu Warkina, di Blok Jumat, Desa Suranenggala.

Alasnya tikar. Atapnya Seng. Na- mun, belasan bahkan puluhan ibu-ibu belajar setiap Minggu sore di sana. Di bagian atapnya terdapat tulisan, ”belajar tak mengenal usia”.

”Dulu, suami ragu saat saya ikut belajar dengan Pak Guru (Warkina).

Dia bilang, kenapa belajar lagi? Kan,sudah tua,” ujar Sutarni yang telah delapan bulan mengikuti kelas. Namun, ia mendapat dukungan saat bisa membaca, tanda tangan, dan menulis nama suaminya di amplop undangan.

Sutarni merupakan satu dari 40 ibu-ibu setempat yang mengikuti kelas setahun terakhir. Mereka umumnya tidak bisa menulis, terbata-bata membaca, dan tak rnampu bertanda tangan. Kadang mereka diakali untuk menandatangani Jsesuatu yang tidak diketahui. Kondisi inilah yang ingin diubah Warkina.

Menumpang

Bersama istrinya, Paniah (34), Warkina datang dari pintu ke pintu menawarkan kelas calistung. ”Banyak yang meragukan. Masak, karni yang lebih muda mengajar orangt'ua?” ujar Warkina menirukan pendapat sejum- lah tetangganya.

Ia juga mengaku sempat dituduh perpanjangan tangan seorang anggota DPRD Kabupaten Cirebon. Ada juga yang mengira ia mengajarkan paham tertentu kepada ibu-ibu.

”Saya sampai mendatangkan ustaz teman saya untuk ceramah pentingnya ilmu bagi manusia,” ucapnya tertawa. Tidak hanya itu, Warkina juga menawarkan hadiah galon air dan jilbab bagi ibu-ibu yang berprestasi di kelas calistung.

Penghapusan buta huruf hanyalah salah satu jendela Lmtuk melihat jejaknya di dunia pendidikan. Enam tahun lalu, guru honorer SMPN 2 Suranenggala ini telah mendirikan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Desa SllI`2\k3.I't3, Suranenggala.

Dengan menyewa sebuah rumah, Warkina yang berhonor Rp 500.000 per bulan membuka PAUD Balai Wiyata secara gratis. Sekolah yang dikelola secara mandiri itu awalnya hanya memiliki 10 siswa.

Menurut dia, pendidikan anak usia

dini bertujuan menanamkan sejak dini kepada orangtua bahwa pendidikan bagi anak itu penting. Pasalnya, tidak sedikit warga Suranenggala yang umurnnya bekerja sebagai nelayan, buruh tani, dan kuli hanya tamatan SD.

Kini, PAUD yang ia dirikan memiliki 32 siswa dengan tarif per siswa Rp 15.000 per bulan. Jumlah ini lebih murah dibandingkan dengan biaya PAUD di kecamatan tersebut yang mencapai Rp 35.000 per bulan.

”Awalnya, gratis. Tetapi, orangtua siswa kasihan dengan guru dan akhirnya berbayar. Lumayan, buat bayar kontrakan rumah PAUD, Rp 4 juta per tahun,” ucap Warkina.

Tidak berhenti di situ, pada 2014, Warkina bersama istri mendirikan PAUD Balai Ceria di teras rumah mertuanya Berimtung, tidak ada keluhan dari mertuanya. Warkina bahkan memperluas teras rumah yang beratap Seng Luituk 50 siswa yang belajar secara gratis.

Setelah berjalan, jumlah siswa semakin bertambah hingga 67 orang sehingga dipindahkan ke bangunan milik desa. Orangtua siswa menyepakati biaya PAUD Rp 10.000 per bulan.

Kedua PAUD yang ia dirikan juga sudah memiliki nomor pokok sekolah nasional dan mulai tahun ini mendapat bantuan operasional dari pemerintah pusat. Mesld demikian, Warkina berusaha tetap kreatiii tak menggantungkan diri kepada pemerintah.

Ia menerapkan sistem pembayaran PAUD dengan sampah plastik rumah tangga. Setiap kilogram dihargai Rp 4.000. ”AwaInya setiap orangtua hanya bawa beberapa ons sebulan. Sekarang ada yang sampai 5 kilogram per bulan,” ujar Warkina. Ditunjuknya tabungan sampah dalam karung yang berada di belakang rumah ibunya. Tujuannya sederhana, mengajarkan kepada setiap anak didik untuk bertanggung jawab atas sampahnya.

Mobil bacaan

Lulusan STKIP Yasika Majalengka ini juga membangun taman baca Podo Moco yang berarti membaca bersama di nunah mertuanya. Kemudian, tahun lalu, bersama istri dan anaknya, Pondia Clausa (7), Warkina berkeliling pasar malam dengan sebuah mobil Carry setiap tiga kali sepekan untuk membawa 300 buku aneka judul. Buku itu ada yang berasal dari bantuan desa dan milik pribadinya.

”Kalau pasar malam atau car free day, kan, orang merasa segar. Kenapa tidak membaca? Apalagi, perpusta-

kaan pemerintah sepi,” ujarnya. Meski menyuguhkan bacaan secara gratis, Warkina kerap merogoh duit Rp 5.000 sampai Rp 10.000 untuk membayar parkir di Taman Kota Sumber dan pasar malam.

Sayangnya, beberapa hari ini, mobil bekas seharga Rp 11 juta yang dibeli dengan mencicil itu rusak dan berada di bengkel. ”Mobil tua, jadi selalu diperbaiki,” ujarnya.

Lalu, dari mana Warkina mendapatkan modal membangun taman baca hingga PAUD? Padahal, ia hanya guru honorer dengan gaji minim. Ia bahkan masih menumpang hidup di rumah mertua.

”Modalnya Rp 10 juta dari gadai emas. Itu hasil kerja di Singapura du1u,” ujar Paniah tersenyum. Mantan tenaga kerja Indonesia ini mendukung peljuangan suaminya. Paniah juga tidak ingn warga di desanya tak mengenyam pendidikan.

Kadang ia sedih karena uang untuk membelikan baju anaknya harus dialihkan guna membayar gaji guru PAUD dan membayar perbaikan mobil. ”Rezeki pasti ada. Entah dari mana dan kapan,” ujar Paniah yang juga menjadi guru PAUD.

Berkat dukungan istrinya, Warkina membuka akses pendidikan bagi anak-anak hingga orangtua yang tidak tersentuh dana triliunan rupiah dari APBN untuk sektor pendidikan. Bahkan, di dalam tembok sekolah, status honorer yang ia emban bertahun-tahun tak lantas menunmkan semangatnya sebagai pendidik. Ia membuat taman baca, mengajak siswa membaca 50 judul buku per semester, dan mendorong siswa menulis.

”Plong... kalau anak-anak bisa membaca dan tidak ada yang buta huruf di desa,” kata Pak Guru Warkina yang pernah berhenti kuliah akibat tak punya biaya. Pendidikan memang untuk membebaskan, bukan sebaliknya.