Menggapai Pembaca Pemula

Sumber: Kompas | Jum'at, 26 Mei 2017

 

Menggapai Pembaca Pemula

Tumpukan buku sekilas seperti apartemen terhampar di ruang Jakarta. Menjulang di sana-sini.

Di antara buku yang tersusun meniulang itu, pengunjung menyelinap ke sana kemari sambal tak melepaskan tatapan dari deretan buku yang nyaris tak tecerna mata.

OLEH BRIGITTA ISWORO L

Begitu masuk ke ruang pamer seluas sekitar tiga kali lapangan bola itu, pengunjung bisa disergap rasa panic; bagaimana mesti memilih bacaan di antara tumpukan  buku. Pada jam-jam tertentu ruang luas tersebut akan dipadati pengunjung. Tua, muda, laki, perempuan, anak-anak, bahkan bayi dalam gendongan ibu atau ayahnya berbaur. Mata mereka terpancang pada tumpukan buku, mengamati judul dan harga, sementara tangan yang lain menyeret keranjang beruda atau koper.

Pasar buku murah Big Bad Wolf untuk kedua kalinya hadir di Jakarta pada 21 April-2 Mei 2017, Digelar 280 jam nonstop, menyajikan lebih dari 100.000 judul buku! "Sekarang kami memakai empat ruang (hall). Tahun lalu hanya satu," kata Hadriani Uli  Tiur Ida Silalahi (51 tahun) yang akrab dipanggil Uli, Minggu (30/4), diJakarta.

Uli adalah sosok di balik pasar buku murah terbesar di Indonesia ini yang tahun ini merupakan pergelaran kedua kalinya. Pada mulanya,beberapa temannya menyebut ide Uli untuk menggelar bazar buku dengan jutaan buah buku ini sebagai ide gila.

Menurut mereka dunia sudah meninggalkan ide buku dari kertas. Era sekarang, buku digital demikian mudah diunduh dari situs-sirus internet. Hanya satu temannya yang mendukung, enam ternan lainnya mengatakan, "Buang saja (idemu) ke laut...."

Selain itu, penelitian tentang minat baca yang terbit tahun lalu juga mengecilkan hati. ”Orang bilang minat baca kita kecil. Nah, apa nggak ngeri? Minat baca di sini (Indonesia) hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 orang, hanya satu yang membaca,” ujar Uli. Tahun lalu dia menawarkan sekitar dua juta buku yang sebagian besar impor : Tahun ini dia menambah jumlah hingga lima juta buku.

"Dulu 47 kontainer, tahun ini 80 kontainer," ujar Uli yang mengaku harus mengatur waktu amat ketat untuk pengaturan bazar.

Ide itu datang dari pemrakarsa Big Bad Wolf, Andrew pemilik sebuah toko buku kecil, BookXcess, di Kuala Lumpur. Malaysia. Diperkenalkan dengan Big Bad Wolf, Uli yang  juga pembaca buku  "tidak bisa tidur sebelum baca buku", akhirnya membawa ajang tersebut ke Indonesia. Buku impor dijual dengan diskon hingqa 80 persen.

“Kami membeli volume. Bukan satuan," ucap Uli. Tahun  ini buku dibeli dari lebih dari 100 penerbit. Sebagian hesar dari Inggris dan Australia. Negara lainnya adalah Amerika Serikat dam Singapura. Penerbitnya pun bukan ecek-ecek, tetapi sekelas DK, Penguin,Harper Collins, dan Disney," paparnya.

 

Buku Disney menjadi sasaran berburu anak-anak kecil bersama para orang tua mereka. Kebanyakan di banderol RP 85.000 untuk buku yang tidak terlalu tebal.

Judul Big Bad Wolf digagas Andrew dengan inspirasi dongeng Si Tudung Merah yang berhadapan dengan serigala yang memakan neneknya. Dalam ajang ini serigala buas "memakan“ harga buku hingga buku bisa murah. Ajang ini sudah ada di tiga negara, yaitu Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Syarat lamanya penyelenggaraan adalah 10 hari 24 jam non stop.

"Merasakan“ buku

Memetik pengalaman dari pergelaran Big Bad Wolf pertama tahun lalu, Uli tahu, rupanya buku untuk usia balita yang paling banyak diburu. Kalau tahun lalu hanya 30 persen buku anak-anak, tahun ini perbandingannya dibalik

"Saya semakin tahu buku apa yang diminati. Bukan buku bacaan, melainkan benar-benar buku untuk pemula," kata Uli. Buku  dengan tombol-tombol dan suara. "Ada yang membawa ke Papua segala,” tambahnya.

Uli senang karena tujuannya tercapai: memperkenalkan literasi secara dini. ”Mereka memulai tidak dari

membaca, tetapi melihat dan merasakan (buku) dulu baru berikutnya membaca. Buku dengan pop up (ada yang muncul dari buku) dan yang sound (ada suara) itu laku sekali. Ada suara. ada mainan,” cerita Uli penuh sernangat.

Buku yang ada mainannya yang ada huruf-huruf A, B, C yang bisa dimainkan. "Buku yang seperti itu sulit ditemukan di toko-toko dan kalaupun ada harganya mahal,” tambahnya,

Harga di bazar itu tata-rata di bawah Rp 100.000. Ada yang mengambil banyak. tambahnya, ternyata dijual lagi hingga ke Papua, juga ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

"Apakah itu untuk melawan gadget (gawai) sehingga ibunya mengarahkan ke buku? Saya masih menyelidiki. Atau karena terbiasa dengan gawai juga sehingga mencari yang lebih atraktif, bukan sekadar membaca doang,” kata Uli mencoba menganalisis.

Karena bertujuan menyebarkan virus gemar membaca atau menambah minat baca, Uli tidak menargetkan jumlah penjualan. tetapi lebih pada jumlah pengunjung. "Dulu tercapai sekitar 350.000, kali ini saya targetkan 700.000, kalau bisa satu  juta. Berarti animo masyarakat terhadap buku tinggi," ujarnya.

Ajang Big Bad Wolf tidak hanya digelar di Jakarta. Oktober tahun lalu acara tersebut digelar di Surabaya dan tahun ini akan kembali diulang Menurut Uli, pengunjung ada yang Clalang dari luar kota, seperli Bandung dan Bogor.

Setelah HP

Bagi Uli, buku adalah sahabat yang tak boleh ditinggalkan. Setelah kebutuhan membawa telepon genggam (HP)—menurut  dia. kebutuhan utama karena unruk komunikasi-maka buku adalah nomor dua   tak boleh tertinggal kalau bepergian.

"Ketinggalan dompet masih bisa disusulkan karena ada HP. Sementara buku adalah teman di perjalanan, terutama kalau ticlak ada teman. Kalau tidak membaca berbicara dengan orang takut seakan kita nimbrung ke orang‘ ujarnya sambil terlawa.

Mengenal dan rnenyenangi kegiatan membaca dari majalah Bobo, Uli semakin tak bisa lepas dari buku setelah mengenal novel remaja Saat menuntut ilmu di Australia, kegemaran membaca berkembang seiring dengan kesenangan membaca biogra?.

"Saya paling terkesan clengun kisah hidup Hillary Clinlnn. seorang perempuan yang bisa menguasai emosinya. Dengan kasus suaminya (kasus selingkuh Presiclen Bill Clinton). Dia tetap tegar, terus maju, dan bertahan. Sungguh tidak gampang,“ ungkap nya.

Bagi Uli, buku memberikan inspirasi. Banyak kisah seseorang dari yang bukan siapa-siapa lalu meraih sukses. Alasan bagus lainnya. "Mata saya sakit kalau baca buku di gawai,’ tambahnya sambil tertawa.