Membaca Menumbuhkan Harapan

Sumber: Kompas | Selasa, 13 September 2017 | Hal 16

Membaca Menumbuhkan Harapan

Musibah gempa dan tsunami tahun 2004 di Aceh membangkitkan semangat kesukarelawanan Alfiatunnur (35). Bersama para sukarelawan, ia membawa buku ke barak-barak pengungsi dan mengajak anak-anak korban bencana membaca. Membaca dapat menyalakan asa mereka yang sempat padam.

OLEH ZULKARNAINI

Membaca dapat melupakan kesedihan dan menumbuhkan harapan,” kata Alhatunnur saat dijumpai di Taman Baca Ar Rasyiid di Kajhu, Aceh Besar, Aceh, akhir Agustus.

Alfiatunnur menamatkan kuliah Jurusan Bahasa Inggris di Universitas Abulyatama Banda Aceh pada akhir 2003. Pulang ke kampung halaman di Matangkuli, Aceh Utara, dengan menyandang gelar sarjana, dia diterima sebagai guru honorer di SMA Negeri 1 Matangkuli.

Di samping mengajar, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Maklum, sejak mahasiswa, dia aktif di Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat wilayah Aceh Utara.

Saat tsunami melanda Aceh, anggota forum tersebut membantu para korban. Banyak lembaga asing ke Aceh menyalurkan bantuan. Karena bisa berbahasa Inggris, Alfiatunnur kerap menjadi penghubung antara  pekerja asing dan sukarelawan lokal. Ia juga diminta menjadi penanggung jawab program penyaluran buku dari Sampoerna Foundation.

Alfiatunnur rnendapatkan kepercayaan dari lembaga donor untuk mendistribusikan buku ke barak-barak pengungsi. Sasaran utamanya adalah anak-anak dan mahasiswa. Buku itu terdiri dari cerita agama, Lunum, buku pelajaran, dan novel.

Tidak mudah mengajak korban membaca buku. Namun, dengan sabar dia membujuk korban agar melupakan kesedihan dan menatap masa depan yang lebih baik.

”Setelah didampingi, sebagian korban. malah menjadi sukarelawan dan memberikan semangat bagi teman-temannya,” katanya.

Mengelola taman baca

Dari 2005 hingga 2007, Alfiatunnur mengelola Warung Baca Anak (Wacana). Wacana merupakan komunitas gerakan literasi yang berpusat di Jakarta. Kelompok ini mengontrak rumah sederhana di Panteriek, Banda Aceh, tak jauh dari perumahan korban tsunami.

Saban hari, anak-anak korban tsunami mengisi Waktu luang dengan membaca di Wacana. Mereka saling berinteraksi. Wacana akhirnya bukan sekadar tempat membaca buku, tapi menjadi tempat mereka bertemu dan saling menguatkan satu sama Iain.

”Dari sini inspirasi dan motivasi kepada seorang anak dimulai. Membaca adalah membangun mimpi baru dari sebuah fiksi menjadi realita,” kata Alfiatunnur.

Tahun 2009, lembaga donor menghentikan kegiatan di Aceh, begitu juga dengan Wacana Alfiatunnur berpikir, gerakan membaca yang tengah berjalan tidak boleh berhenti. Dengan memanfaatkan buku-buku milik Wacana, ia bersama sukarelawan lain lantas membentuk Taman Baca Masyarakat (TBM) Ar Rasyiid.

Rumah yang dikontrak Wacana sudah berakhir sehingga taman baca dipindahkan ke Kajhu, Aceh Besar, kawasan paling parah diempas tsunami. Di sini TBM Ar Rasyiid kian dengan para korban tsunami.

Sore itu, di ruangan ukuran 15 meter X 10 meter, puluhan anak-anak usia 3-15 tahun tengah belajar. Mereka belajar bahasa Thailand. Kebetulan hari itu ada kunjungan sukarelawan dari Thailand.

TBM Ar Rasyiid terbuka untuk berbagai kelompok usia. Namun, pengunjungnya lebih banyak anak usia sekolah dasar. Di taman baca ini, mereka diajarkan berhitung, membaca, dan bermain. Mereka belajar di Sana tanpa dipungut biaya. Proses belajar didanipingi sekitar 15 sukarelawan, umumnya mahasiswa. Mereka tidak digaji. Bagi Alfiatunnur, jiwa kesukarelawanan adalah modal besar untuk membangun gerakan membaca.

Rumah bersama

Aliiatunnur berharap, TBM Ar Rasyiid dapat menjadi rumah belajar

bersama bagi semua orang. Agar gerakan itu terus berjalan, ia mengader para sukarelawan untuk mengelola taman baca dengan membentuk pengurus harian. Ia sendiri membangun jaringan untuk mengumpulkan buku.

Dalam beberapa bulan terakhir,taman bacaan itu kerap dikunjungi sukarelawan mancanegara, seperti Malaysia, Thailand, dan Kanada. Tak jarang, mereka datang membawa buku bacaan. Sebagian sukarelawan asing itu adalah teman –Alfiatunnur saat kuliah S-2 di Amerika Serikat.

Ia beruntung mendapatkan beasiswa dari Bill Clinton Foundation sehingga dia bisa menyelesaikan kuliah S-2 Jurusan Pendidikan Kepemimpinan di University of Arkansas, AS. Selama di sana, dia terkagum-kagum menyaksikan warga yang seolah tidak mau berpisah dari buku.

”Di sana, buku sangat mudah didapat. Bagi mereka, membaca sudah jadi kebutuhan,” katanya.

Pulang ke Tanah Air pada 2011, Alfiatunnur diterima sebagai dosen tetap di Akademi Keperawatan Cut Nyak Dhien Banda Aceh. Dia harus berbagi Waktu antara mengajar dan mengelola taman baca, Mendengar suara anak-anak belajar berhitung dan membaca melecut semangatnya untuk terus membangun gerakan ini.

Buku yang terdapat di TBM Ar Rasyiid merupakan hasil sumbangan banyak pihak, seperti mahasiswa, komunitas 1001 buku, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah, dan lembaga asing. Tahun 2016, taman itu mendapatkan bantuan buku selama setahun dari Gramedia.

TBM Ar Rasyiid keluar sebagai pemenang ketiga dan juara favorit pada Gramedia Reading Commtmity Competition 2016 Sumatera yang digelar Gramedia. Dewan juri menilai, kehadiran taman baca itu bermanfaat bagi masyarakat sekitar.