Di Balik Sinyal Perbatasan

Sumber : Kompas | Jum'at, 18 Agustus 2017 

 

Di Balik Sinyal Perbatasan

oleh J GALUH BIMANTARA & ANTONY LEE

 

Di kota-kota besar, sinyal internet yang stabil dan kuat seolah menjadi kewajaran, tetapi tak begitu halnya di daerah perbatasan. Di balik sinyal telekomunikasi yang kuat di tapal batas, ada sosok-sosok tak terlihat yang tak kenal waktu, cuaca, dan ancaman keamanan untuk memastikan masyarakat bisa menikmati sinyal komunikasi secara prima. Khaerul Anam adalah salah satu di antara mereka

Irul, sapaan akrab Khaerul, sedang menjalankan perawatan rutin pada mesin pembangkit daya atau genset yang berada di bawah menara BTS Telkomsel pada di pertengahan Juli lalu. Genset itu menjadi sumber energi BTS yang berjarak beberapa puluh meter dari Pos Lintas Batas Negara RI-Papua Niugini (PNG) di Skouw, Kota Jayapura, Papua. Namun, pada malam hari hingga pagi, energi BTS itu bersumber dari baterai yang dayanya terisi selama genset hidup.

Pria kelahiran 23 Mei, 41 tahun silam itu, menjadi penjaga BTS Telkomsel di perbatasan RI-PNG sejak 2005. Tanggung jawabnya, mengontrol ada-tidaknya gangguan pada genset, mesin BTS, atau gangguan jaringan yang bisa menghambat operasi BTS. Jika ada gangguan teknis, ia langsung mengontak staf di pusat Kota Jayapura agar segera datang membawa peralatan yang dibutuhkan.

Selain itu, Irul bertugas melaporkan ketersediaan bahan bakar solar agar pemasok datang sebelum tangki genset kehabisan solar.

Aktivitas itu menjadi mata rantai pekerjaan guna memastikan BTS tetap beroperasi dan memenuhi kebutuhan komunikasi orang-orang dalam radius 2-3 kilometer dari BTS, baik untuk berkirim pesan singkat, menelepon, maupun berselancar di dunia maya. BTS Merah Putih itu menyediakan jaringan 4G sehingga berinternet di sekitar PLBN Skouw- bahkan hingga sebagian Kampung Wutung di wilayah PNG- bisa sama cepatnya dengan menggunakan internet di Jakarta.

Hal ini membuat kerinduan tentara-tentara di Pos Komando Taktis Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-PNG di Skouw kepada keluarga mereka pun bisa terobati.

Tiap hari, sekitar pukul 06.30, Irul datang ke BTS. Ia kembali ke rumahnya di Koya Timur, Distrik Muara Tami, pukul 17.30 yang berjarak sekitar 15 kilometer. Namun, jika masalah muncul malam hari sekalipun, ia wajib datang lagi, mengecek sumber gangguan sinyal, lalu melaporkan ke Kantor Telkomsel.

Suatu malam, pada tahun 2008, ia dikontak salah seorang rekannya di kantor Telkomsel Jayapura, berkabar bahwa BTS tengah bermasalah sehingga ia harus segera datang mengecek. Padahal, Irul saat itu masih tinggal di Dok 5, Jayapura, yang berjarak sekitar 70 km dari Skouw. Ia pun memacu sepeda motornya kencang- kencang menuju BTS.

Nyaris tertembak

Tahun 2014 pernah menjadi masa mencekam di Skouw. Terjadi baku tembak antara anggota TNI dan Polri dengan kelompok bersenjata. Setelah itu, teror demi teror silih berganti dilancarkan kelompok bersenjata di Skouw, mengakibatkan perbatasan ditutup hingga berbulan-bulan. Dalam kondisi itu, Irul tidak pernah libur.

Suatu ketika di tengah masa teror bersenjata, Irul duduk rehat di bawah pohon di samping BTS seusai memperbaiki kerusakan mesin genset. Posisi BTS kala itu lebih dekat dengan garis perbatasan, berbeda dengan posisi yang sekarang. Telinga Irul sayup- sayup menangkap suara letupan senapan dan suara benda yang meluncur cepat di dekat kepalanya. Syuung-syuung..

"Teman saya bilang, 'Rul, di samping kepalamu itu apa putih-putih?'," cerita Irul. Ia pun melihat daun-daun berjatuhan.

Irul segera paham, bahaya sedang dekat dengan mereka. Ia langsung mengajak rekannya berlindung di tempat aman. Atas nama kepentingan orang banyak, Irul melawan rasa gentarnya setelah kejadian itu meski ancaman bahaya selalu ada.

Minim penghargaan

Keluhan dan omelan dari pelanggan akrab dengan Khairul, terutama saat mereka kesulitan berkomunikasi karena gangguan pada BTS. "Kadang orang tidak tahu, tidak ada suku cadangnya di sini," tuturnya.

Di tengah sejumlah tantangan dan keterbatasan, Irul tetap saja bertahan dengan pekerjaan itu. "Sudah enak dengan teman-teman, sambil hitung-hitung ibadah-lah," ucapnya.

Untuk menambah pendapatan, Irul pada waktu senggang menawarkan jasa ojek sepeda motor, mengantarkan warga Papua Niugini yang selesai berbelanja di Pasar Skouw sampai ke PLBN untuk selanjutnya kembali ke negara mereka.

Tarifnya biasanya 2 kina (sekitar Rp 8.300). Pekerjaan sampingan lain adalah menjadi kuli panggul di Pasar Skouw dengan bayaran Rp 10.000-Rp 20.000 sekali memanggul. Sementara itu, istri Irul juga membantu dengan sesekali berjualan sayur.

Inilah sosok Khaerul, orang kecil di balik kehadiran negara di perbatasan dalam rupa sinyal telekomunikasi.