Berbagi Jendela Dunia

Sumber: Kompas | Kamis, 19 Januari 2017

Berbagi Jendela Dunia

Enam tahun berkecimpung di dunia Iiterasi membuat Iffa Suraiya (49) percaya bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya punya kemampuan baca yang tinggi. Namun, modal itu belum diimbangi dengan semangat dan kualitas membaca serta kemudahan mengakses bermacam buku. Untuk mengatasinya, ia membangun perpustakaan mandiri dan teras baca di beberapa daerah. OLEH RUNIK SRI ASTUTI Bait Kata Library (BKL) di Perumahan Larangan Mega Asri, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada awal Januari sore itu agak mendung. Udara sejuk. Dari luar, perpustakaan mandiri di bangunan dua lantai seluas sekitar 172 meter persegi itu tampak seperti rumah biasa. Begitu masuk ke dalam, rak-rak buku memenuhi lantai satu dan lantai dua. Meski demikian, suasananya lebih santai dibandingkan dengan perpustakaan formal. Sore itu, ada lima remaja dari sejumlah kampus di Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya yang tengah duduk lesehan di atas karpet di lantai atas. Mereka-Alifia, Ayu, Dinda, Rina, dan Yulinda-berbincang seraya membaca beragam koleksi novel-novel ternama. ”Dulu, kami kerap berkunjung sepulang SMA, sekarang pun masih kerap berkunjung di sela kuliah. Bait Kata bagi kami lebih dari sebuah perpustakaan biasa,” ujar Aliiia Alifia adalah satu dari 1.378 anggota BKL yang dirintis Iffa Suraiya sejak 2010. Bisa dibilang, perpustakaan ini menjadi tonggak kiprah perempuan itu di dunia literasi. ”Buku ada_lah jendela dunia, Hanya dengah membaca buku, seseorang mampu melihat banyak hal di berbagai pelosok dimia yang mungkin sulit dijangkau secara iisik. Selain itu, dengan membaca, pikiran menjadi terbuka, kaya perspektif, kaya imajinasi, lebih kreatii dan inovatii” tutur Iffa Kesadaran itu memupuk semangat ibu dari tiga putri ini untuk meningkatkan kualitas masyarakat melalui pengembangan literasi. Dia memulai langkahnya dengan mengubah rumah tinggal miliknya menjadi per pustakaan atau rumah baca bagi khalayak umum. Agar menarik, rumah dua lantai itu dilengkapi dengan beragam koleksi buku. Awalnya, dia memajang sekitar 5.000 judul buku koleksinya, termasuk majalah dan koran. Kini, koleksi Bait Kata mencapai sekitar 10.000 judul buku dan 700-an judul film. Koleksi diperbarui agar mampu menyesuaikan dengan kebutuhan pembacanya. ”Kecenderungan pembaca kami semakin muda. Sekarang banyak anak-anak berpendidikan dasar yang datang ke perpustakaan, dan hal itu positif karena méreka mengenal budaya baca lebih dini,” kata Iffa. Setiap hari, tak kurang dari 30 orang berkunjung ke perpustakaan yang dibuka mulai pukul 09.00 hingga 17.30 itu. Para anggota mencatat sendiri buku yang dipinjam dan buku yang dikembalikan. Tidak ada biaya untuk menjadi anggota ataupun meminjam buku, bahkan tak mengembalikan pun tak didenda. Sebaliknya, selain mendapatkan koleksi buku-buku berkualitas, pengunjung dimanjakan dengan fasilitas tempat baca yang nyaman, mudah dijangkau, serta bebas akses internet. Sesekali pengelola menggelar diskusi buku untuk menambah pengetahuan pembaca. Di kota-kota Iain Sukses membuka BKL di Sidoarjo, Iffa mengembangkan perpustakaan mandiri serupa di Atambua (Nusa Tenggara Timm), Sabang (Aceh), dan Raja Ampat (Papua Barat). Setiap daerah menampilkan buku koleksi berbeda, sesuai dengan karakter masyarakat lokal. Namun, Iffa kesulitan memantau perkembangan perpustakaan di luar Sidoarjo. Selain jaraknya jauh, biaya transportasinya juga mahal. Ongkos pengiriman bukunya juga tinggi sehingga dia kesulitan untuk memperbarui koleksi buku. Apalagi, akses untuk mendapatkan buku di luar Jawa tidak mudah. Perjuangan Iiterasi Iffa tak berhenti di perpustakaan mandiri. Dia menyadari bahwa serangan budaya yang berasal dari benda-benda visual dan digital, seperti televisi, telepon pintar, dan internet, semakin kencang. Salah satu faktomya adalah karena berbagai produk teknologi komunikasi itu mudah diakses. Di sisi lain, jumlah pusat bacaan, baik yang dikelola pemerintah maupun masyarakat, sangat terbatas. Akibatnya, masyarakat kian sulit mengakses buku bacaan berkualitas. Setidaknya butuh usaha untuk datang ke perpustakaan yang biasanya hanya ada satu di satu kota. Menyiasati keterbatasan itu, Iffa membuat terobosan dengan mendirikan teras baca. Dinamakan ”teras” karena tidak butuh ruang yang luas. Hanya diperlukan tempat kosong yang bisa dimanfaatkan untuk menaruh buku-buku bacaan dan tempat itu cukup mudah dijangkau. Apabila tidak ada tempat kosong, Iffa memfasilitasi dengan rombong baca. Prinsipnya, dia ingin menjemput pembaca di mana pun mereka berada. Namun, fokus utamanya masih di sekolahsekolah. Pertimbangannya, sekolah diisi generasi muda yang merupakan calon pemimpin bangsa atau setidaknya bakai bertanggung jawab atas kelangsungan masa depan bangsa. Pada awal 2017 Iffa mengembangkan gerakan, membaca dengan menyasar Warga di permukiman. Dia merangkul ibu rumah tangga yang peduli pada tumbuh kembang anak-anaknya di tengah derasnya gempuran gawai. Mereka dibekali buku bacaan berkualitas untuk ditawarkan kepada anak-anak tetangga ”Bait Kata memfasilitasi buku koleksi, pengiriman dan pembaruan koleksi, serta fasilitas yang diperlukan, seperti lapak atau rak kecil,” ucap Iffa yang tahun ini berencana membuka teras baca di Kecamatan Ngebel (Sidoarjo), Kabupaten Pati (Jawa Tengah), dan Kabupaten Jombang (Jawa Timur). Tempatnya tidak harus menetap. Bisa di teras rumah atau ruang tamu hingga di balai pertemuan. Setelah jam operasional tutup, buku-buku bisa disimpan kembali ke dalam kotak atau kontainer kecil agar tidak memakan banyak tempat. Prinsipnya, ma- syarakat dekat dengan akses bacaan. Berjuang bersama Iffa tak sendirian berkiprah dalam memajukau Iiterasi. Dia dibantu tiga pegawai dan para relawan. Adapun seluruh kegiatau Bait Kata Library ini dibiayai oleh Iffa dan suaminya, Haris Muhtadi, sebagai donatur tetap. Namun, terbuka juga peluang bagi donatur lain yang ingin berpartisipasi asalkan tidak mengikat. Demi kelangsungan perjuangan literasinya, Iffa juga mengajari karyawan dan relawan untuk mencari alternatif pembiayaan dengan menggelar kegiatan yang mampu menghasilkan uang. Kegiatan itu misalnya memborong pengadaan suvenir untuk acara seminar berskala besarf Iffa menyadari, tak ada usaha yang tanpa kendala, apalagi untuk kegiatan sosial. Selain terkendala dana, juga tak mudah mencari buku baru berkualitas di tengah maraknya penerbitan buku independen. Harus jeli memilih dan memilahnya. Perempuan ini tak berkecil hati di tengah serbuan buku digital. Dia beralasan,_masyarakat memang punya kemampuan membaca, tetapi pemahaman mereka terhadap bacaan masih kurang. Pada kondisi seperti ini, mereka lebih memerlukan buku-buku konvensional dibandingkan buku digital.