Bekal Hidup dari Rumah Baca

Sumber: Kompas | Kamis, 20 Juli 2017 | Hal 16

 

Danny Setyawan

Bekal Hidup dari Rumah Baca

Berawal dari keinginan membuat sebuah perpustakaan sederhana, Danny Setyawan (41) dan

beberapa pemuda Kampung Dadapsari, Solo, mendirikan Rumah Baca Sangkrah. Dalam perkembangannya, Rumah Baca Sangkrah menjadi rumah belajar dan berkarya bagi pemuda-pemuda kampung di Sangkrah. Mereka berkreasi dan belajar berbagai keterampilan usaha untuk bekal hidup mandiri.

OLEH ERWIN EDHI PRASETYA

Tahun 2014, Danny, yang akrab disapa Ndut Danny mulai mewujudkan sebuah perpustakaan kecil yang kemudian dinamai Rumah Baca Sangkrah di Kampung Dadapsari, Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah. Ide membuat perpustakaan awalnya diusulkan pemuda Kampung Dadapsari yang ingin memiliki tempat berkumpul dan berkegiatan positif.

”Awalnya saya dihubungi Diki Bangun (Salah seorang pemuda Kampung Dadapsari). Dia dan  teman-teman ingin membuat perpustakaan,saya coba membantu,” ujar Danny Pembina Rumah Baca Sangkrah, di Solo, Selasa (4/ 7).

Namun, di perkampungan Dadap Sari yang padat penduduk itu sulit mencari ruang yang memadai untuk mendirikan perpustakaan. Akhirnya mereka memanfaatkan pos ronda yang lama tidak  digunakan. Dengan seizin warga dan ketua RT setempat, pos ronda berukuran 2 meter x 2,5 meter dicat ulang dan diperindah untuk dijadikan perpustakaan mini.

Danny lantas menyerahkan 50-60 buku. Buku-buku itu dari sumbangan teman-temannya. Upaya pengumpulan buku memanfaatkan jaringan pertemanan di media sosial. ”Saya ceritakan rencana itu di medsos, ternyata mampu menggerakkan banyak orang untuk menyumbangkan buku, bahkan buku dari luar negeri. Total ada 2.000-an buku, tak satu pun kami beli,” katanya. Untuk membiayai operasional perpustakaan, Danny Diki, dan pemuda lain menawarkan jasa pembayaran listrik untuk Warga sekitar. Warga yang bersedia menggunakan jasa yang disediakan ditarik biaya Rp 2.000.

Ada lebih dari 200 rumah yang memanfaatkan jasa ini. Dana yang terkumpul cukup untuk membayar tagihan listrik dan internet di perpustakaan. ”Setelah usaha itu jalan, kemudian terpikir kenapa tidak membuat usaha sendiri, banyak keahlian yang bisa dipelajari untuk buka usaha,” katanya.

Danny merancang pelatihan kerja. Ide ini dicetuskannya lantaran beberapa anak muda yang biasa berkegiatan di Rumah Baca Sangkrah masih menganggur atau tak memiliki pekerjaan tetap. Bahkan, beberapa di antaranya dekat dengan kenakalan, seperti mintun-minuman keras, sehingga mereka mendapat stigma negatif.

Awalnya, lima pemuda dengan rentang usia 22-25 tahun diikutkan pelatihan menyablon kaus, pengecatan dengan airbrush, desain Web, pelatihan membuat patung dari bahan resin, dan pembuatan batik berdesain kontemporer. ”Saya ambil lima anak muda sebagai rule model. Saya carikan pelatihnya,” katanya.

Danny mengontak teman dan kenalannya untuk menjadi relawan. Pelatihan usaha disesuaikan dengan minat dan bakat masing-masing. Satu orang dikirim belajar menyablon hingga ke Banyuwangi, Jawa Timur, kemudian diianjutkan kerja magang di tempat usaha sablon kaus milik rekan Danny di Solo. Empat lainnya belajar pengecatau airbrush, desain Web, pelatihan membuat patung dari resin untuk suvenir, dan membatik kontemporer. Pelatihan ini mendatangkan relawan dari mahasiswa hingga praktisi yang ahli di bidangnya.

Diperluas

Ruang perpustakaan Rtunah Baca Sangkrah dirasakan tidak cukup lagi. Mereka membutuhkan ruang lebih luas untuk memulai usaha. Kebetulan ada rumah kosong persis di samping perpustakaan rumah baca. Rumah itu dikontrak. Rumah itu kami sewa Rp 20 juta per tahun. Sebenarnya kami tak punya uang cukup. Lalu saya cerita di medsos tentang rencana kami dan bantuan dari teman-teman datang,” katanya .

Berbekal donasi, rumah lawas dengan luas sekitar 300 meter persegi itu disewa setahun. Anak-anak muda mulai membuka usaha di sana. Setiap hari Rumah Baca Sangkrah semarak dengan aktivitas menyablon hingga pengecatan airbrush.

Usaha menyablon menempati ruangan bagian depan yang beruktuan sekitar 3 meter X 5 meter. Untuk usaha pengecatan dengan airbrush menempati ruang bagian belakang. Ruang tamu dimanfaatkan untuk perpustakaan, desain Web, dan pertemuan. ”Untuk desain web, sekali menggarap bisa dapat Rp 3 juta Airbrush untuk satu sepeda motor Rp 500.000-Rp 1 juta, bergantung pada tingkat kesulitan desainnya. Kalau airbrush untuk sangkar burung Rp 300.000-Hp 400.000 per buah,” ujar Danny.

Keterampilan itu ditularkan kepada anak-anak muda lainnya. Mereka yang berrninat sablon kaus bisa memilih belajar menyablon. Mereka membantu setiap kali ada pesanan yang harus dikerjakan. Aktivitas negatif yang sebelumnya akrab dengan sebagian anak muda itu, seperti minum-minuman keras, terkikis oleh kesibukan usaha. Danny juga membuat aturan tegas, dilarang datang dalam keadaan mabuk dan tidak boleh mabuk-mabukan di rumah baca ”Mereka yang sudah memiliki keahlian mengajak yang masih menganggur dan putus -sekolah. Konsepnya sesederhana itu, menularkan keterampilan. Harapannya, makin banyak yang bisa sehingga punya bekal ke  terampilan membuka usaha,” katanya.

Sebagian keuntungan sebesar 20 persen disisihkan untuk mendanai kegiatan rumah baca, membeli peralatan produksi, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Hasil penjualan produk kaus, suvenir dari resin, stiker, pengecatau airbrush, kini bisa untuk membayar kontrakan rumah untuk tahun kedua. Kemandirian mulai terbangun dari hasil kerja mereka sendiri.

Setelah program pelatihan kerja dilakukan, menurut Danny, selanjutnya diperkuat dengan program pelatihan bisnis. Sebab, tidak cukup hanya punya keterampilan keria tanpa didukung pengetahuan strategi bisnis agar bisa mengembangkan usaha yang telah dirintis, sekaligus melatih mental berwirausaha.

"Perpustakaan jadi pijakan awal dalam pemberdayaan remaja atau anak muda kampung yang tujuan akhimya adalah membangun kewirausahaan untuk bekal mereka berdikari,” kata Danny.

Kegiatan Rumah Baca Sangkrah tidak melulu berkutab pada pelatihan kewirausahaan. Program sosial juga digarap, seperti penyuluhan tentang HIV/AIDS kepada Warga Kampung Dadapsari dengan menggandeng Yayasan Lentera Solo serta bakti sosial kesehatan. Rumah Baca Sangkrah juga terbuka bagi anak-anak di Kampung Dadapsari untuk bermain dan berkesenian.

Kegiatan-kegiatan seni digelar, seperti teater untuk anak, belajar menggambar, dan bermain musik Puluhan anak-anak usia sekolah dasar yang biasa bermain di gang-gang sempit Kampung Dadapsari bergembira memiliki ruang bermain dan berkesenian.

Untuk mengisi kegatan itu, Danny menggandeng relawan dari mahasiswa Institut Seni Indonesia Surakarta ”Kenapa kegiatan seni? Karena selama ini pada diri anak-anak olah rasa belum banyak tersentuh. Pendidikan formal cendertmg lebih menyentuh pengetahuan dibandingkan rasa,” katanya.

Danny kini memilih mundur dari pekerjaannya di bidang teknologi informasi di sebuah perusahaan swasta agar bisa fokus mengembangkan Rumah Baca Sangkrah. Baginya rezeki bisa datang dari mana saja. Ia berencana menularkan konsep Rumah Baca Sangkrah ke kampung-kampung lain, tidak hanya di Solo.

”Ini cita-cita yang saya inginkan sejak dulu. Kita bisa berbuat sesuatu tanpa menunggu sukses dulu,” katanya.