AKSES TAK BERBAYAR KE RIBUAN BACAAN

AKSES TAK BERBAYAR KE RIBUAN BACAAN

Sumber: Kompas I Minggu, 31 Januari 2016 I Hal 30

Perpustakaan sebagai salah satu sumber bacaan dan inspirasi merupakan ruang yang paling akrab, terutama bagi mereka yang sedang menyelesaikan studi. Kini, ”semedi” menelan berbagai materi itu punya ruang Iainnya, di ruang maya, Iayar gawai. Ribuan buku, jurnal ilmiah dan video, misalnya, tersedia gratis di pusat sumber elektronik alias ”e-resources” yang dibangun oleh Perpustakaan Nasional.

OLEH INDIRA PERMANASARI

Rinaldi (34) yang tengah menempuh pendidikan pasca-sarjana di sebuah universitas negeri di Jakarta, misalnya, mengandalkan sumber elektronik dalam menyelesaikan tugas akhir studinya Persoalan jarak dan Waktu yang harus disiapkan kerap membuatnya urung ke perpustakaan. ”Buku dan jurnal digital cenderung menjadi pilihan utama,” ujarnya, Jumat (29/1).

Ada keunggulan lain sumber elektronik, yakni keniudahan menarik data Cukup memasukkan kata kunci, mesin pencari akan giat mencari artikel yang relevan dengan kata kunci itu. Terkadang, hal-hal yang semula tidak diketahui terkait justru ditemukan kaitannya lewat data dan informasi yang ditarik oleh mesin pencari,

Akan tetapi, keunggulan ltu dapat juga menjadl kelemahan. Sebuah kata kunci dengan mudahnya tertaut ke berbagai informiasi lainnya yang jika terus dituruti tautannya, kita dapat tersesat di belantaran informasi dan semakin jauh dari tujuan semula. “saya jadi terlalu sibuk dan lama-lama mencari,” ujarnya

Saat ini, Rinaldi memiliki beragam koleksi buku dan artikel jurnal elektronik "Koleksi bisa saya bawa ke mana-mana Kalau butuh, tinggal buka laptop atau gawai. Bayangkan kalau itu buku atau jurnal fisik, berapa banyak rak yang harus saya punya untuk menyelesaikan tugas akhir saya-” ujarnya.

Dia mengatakan, tak semua pusat sumber menyediakan buku dan jurnal yang dapat diakses gratis. Sering kali harga buku dan akses jumal elektronk, terutama dari Iuar negeri, begitu mahal. "Sumber elektronik tak berbayar jadi andalan," ujarnya.

Kebutuhan akan pusat sumber elektronik tak berbayar itu dijawab oleh perpustakaan Nasional RI dengan membangun pusat sumber eletronik.  Jurnal dan buku dari berbagai penyediaan internasional dan nasional, seperti Proquest, Sage, E-book Gale, EBSCO, IGI Global, MyLibrary, ISEAS, Westlaw dan Balai Pustaka, dapat dibaca dan diunduh tanpa biaya sepeser pun. Pemerintah yang telah membayar biaya hak cipta dan berlangganan jurnal tersebut.

Pengguna tidak perlu datang ke gedung Perpustakaan Nasional di bilangan Salemba, Jakarta Pusat, itu untuk mendaftar. Cukup registrasi secara daring di laman www.pnri.go.id pada tautan “anggota” guna mendapatkan nomor anggota guna mengakses e-resources. Jika pemustaka ingin memiliki kartu anggota lengkap dengan foto diri, tetap harus datang ke lokasi perpustakaan nasional.

Saat ini terdapat 170.000 judul jurnal ilmiah eletronik, 20.000 buku digital, dan ribuan video di dalam layanan e-resources Perpustakaan Nasional. “layanan ini bagian dari hibridisasi antara perpustakan fisik dan elektronik perpustakaan nasional,” ujar Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan informasi perpustakaan nasional Titiek Kismiyati, kamis (28/1).

Saat ini, masyarakat menginginkan informasi cepat dan dapat  diakses kapan  Serta di mana saja. "Sambil tiduran pun kalau bisa akses jurnal. tidak harus datang ke perpustakaan," ujarnya.

Bagi Perpustakaan Nasional, kehadiran bahan elektronik menguntungkan karena menghemat tempat dan perawatan. Untuk menampung sekitar 3 juta koleksi fisik berupa buku dan multimedia yang ada, misalnya, perpustakaan pemerintah itu tengah membangun gedung perpustakaan baru 24 lantai dan setidaknyn 15 lantai di antaranya, khusus untuk menyimpan koleksi. Gedung perpustakaan baru itu di rencananakan selesai tahun 2017.

Balai Pustaka dan naskah kuno

kehadiran pusat sumber elektronik juga memungkinkan penyebaran dan pelestarian karya-karyan penulis masa Ialu. Sekitar 300 karya yang diterbitkan Balai Pustaka, misalnya, dibayar hak ciptanya oleh Perpustakaan Nasional sehingga masyarakat dapat mengaksesnya lewat e-resources. Karya-karya legendaris Balai Pustaka, seperti karya Marah Roesli, Merari Siregar, dan lain-lain yang sudah tidak dicetak lagi, kini dapat dinikmati generasi muda.

Berbagai karya dari badan pengembanga Bahasa. seperti karya dalam bahasa daerah yang kini tidak diterbitkan lagi, juga dapat diakses dicpusat sumber elektronik itu. “Saat ini banyak bahasa daerah yang punah, ini upaya untuk melestarikan budaya,”ujarnya.

Selain itu, terdapat juga upaya digitalisasi naskah kuno yang disinergikan dengan e-resources. Sejauh ini, naskah-naskah kuno tersebut baru setersebut baru sebatas dialihkanmediakan, belum dialihkasarakan atau dialihbahasakan.

Konsetrasikan Perpustakaan Nasional dalam membangun koleksinya memang terutama pada kehudayaan indonesia dan pengembangan ilmu perpustakaan. "Untuk mengetahui suatu negara ada dua hal yang harus dipelajari, politik dan kebudayaannya,” ujar Titiek.

Sayangnya, belum banyak penerbit Indonesia yang menerbitkan buku dalam bentuk digital. Sebagian besar bahan bacaan yang dilanggankan oleh perpustkaan Nasional masih dalam bahasa asing, Inggris. padahal, potensi penerbitan buku eletronik itu besar.

“Pusat sumber eletronik sudah menjadi kebuthan besar pada era digital ketika informasi ada di ujung jari…,” ujar Titiek